RADARSITUBONDO.ID - Bencana alam terjadi di Filipina. Topan Kalmaegi telah merenggut nyawa 52 orang setelah menyerang bagian tengah negara pada Selasa, 4 November 2025.
Badai yang dikenal dengan nama "Tino" ini menyebabkan kerusakan besar, terutama di Provinsi Cebu yang paling parah terkena dampaknya.
Topan ini datang ke darat dengan kecepatan angin lebih dari 130 kilometer per jam. Kekuatan yang sangat besar ini menghancurkan pemukiman, merobohkan bangunan, dan membuat jalan-jalan dipenuhi dengan lumpur yang membawa pergi semua yang ada di jalannya.
Situasi di Cebu sangat menyedihkan. Dalam sebuah video amatir menunjukkan mobil, truk, dan bahkan kontainer besar terseret arus lumpur, terlihat seperti mainan yang tertumpuk di jalan.
Banyak orang dilaporkan terjebak di atap rumah karena air yang meningkat, sementara banyak kendaraan terendam air.
Baca Juga: Makin Mudah! QRIS Kini Bisa Dipakai Belanja di Korea Selatan
Di antara yang meninggal ada enam anggota militer yang tewas ketika helikopter Huey yang mereka naiki jatuh di Provinsi Agusan del Sur, Pulau Mindanao.
Insiden itu terjadi saat mereka sedang melakukan misi kemanusiaan untuk membantu korban badai.
Baca Juga: Realme C85 Pro dan C85 Pro 5G Debut di Vietnam dengan Fitur Premium dan Harga Terjangkau
Sebagian besar kematian dilaporkan karena tenggelam, sementara aliran lumpur deras mengalir dari perbukitan ke kota-kota di bawahnya.
Ratusan ribu orang telah dievakuasi dari bagian timur sebelum datangnya topan, tetapi jumlah itu terus bertambah seiring bertambahnya dampak dari bencana.
Baca Juga: Atletico Madrid Bangkit! Taklukkan Union Saint-Gilloise 3-1 di Liga Champions
Kalmaegi adalah badai tropis yang ke-20 yang melanda Filipina tahun 2025. Topan ini datang ketika negara itu masih berusaha bangkit dari serangkaian bencana yang terjadi sebelumnya.
Setelah melemah di Filipina, Kalmaegi diperkirakan akan menguat kembali di Laut China Selatan sebelum menuju Vietnam pada Jumat, 7 November 2025.
Tim penyelamat sedang bekerja keras untuk mengevakuasi orang-orang yang masih terjebak, sementara 13 orang masih belum ditemukan.
Editor : Ali Sodiqin