RADARSITUBONDO.ID - Tentara Pembebasan Rakyat Angkatan Laut China mulai menggunakan kapal induk terbaru mereka, Fujian, pada Rabu (5/11/2025).
Acara peresmian berlangsung di Pangkalan Angkatan Laut Sanya, di Pulau Hainan, dan dihadiri oleh Presiden Xi Jinping.
Baca Juga: Perempat Final Korea Masters 2025, Indonesia Hadapi Tantangan Berat dari Tuan Rumah
Fujian adalah kapal induk ketiga yang dimiliki oleh China dan juga yang pertama dibuat sepenuhnya di dalam negeri. Berbeda dengan dua kapal sebelumnya, Liaoning yang merupakan kapal bekas dari Uni Soviet dan Shandong yang masih mengikuti desain Soviet, Fujian menunjukkan kemajuan teknologi maritim China yang mandiri.
Dalam upacara yang megah itu, Presiden Xi memberikan bendera militer kepada kapten kapal. Hadir juga Kepala Staf Xi, Cai Qi, Wakil Perdana Menteri Zhang Guoqing, dan Zhang Shengmin, yang baru ditunjuk sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, yang memimpin acara peresmian.
Baca Juga: Hunters Kembali Beraksi! KPop Demon Hunters 2 Targetkan Rilis 2029
Kapal induk yang beratnya mencapai 85.000 ton ini dilengkapi dengan sistem peluncuran pesawat elektromagnetik, sebuah teknologi canggih yang sebelumnya hanya dimiliki oleh Amerika Serikat.
Sistem ini memungkinkan pesawat tempur diluncurkan dengan lebih cepat dan efisien. Fujian dapat menampung hingga 70 pesawat, termasuk jet J-15T, pesawat peringatan KJ-600, dan jet tempur siluman J-35.
Baca Juga: Nasib Tiga Taikonaut China Memprihatinkan, Terdampar Tanpa Jadwal Kepulangan Pasti
Kehadiran Fujian menunjukkan ambisi Presiden Xi untuk memodernisasi angkatan bersenjata China pada tahun 2035 dan menjadikannya "kelas dunia" pada pertengahan abad ini, hal ini berarti menjadi kekuatan yang setara dengan Amerika Serikat.
Greg Poling, Direktur Asia Maritime Transparency Initiative, mengatakan bahwa kapal induk ini sangat penting untuk visi pemimpin China yang ingin memperluas pengaruhnya.
Salah satu tujuan utamanya adalah menguasai perairan yang dikenal sebagai Rantai Pulau Pertama, yang mencakup Jepang, Taiwan, hingga Filipina, termasuk Laut China Selatan dan Laut China Timur.
Ahli militer dari Hong Kong, Song Zhongping, menyatakan bahwa China memiliki hak untuk membangun angkatan laut yang mampu menggapai seluruh dunia, sesuai dengan statusnya sebagai negara besar dengan kepentingan di berbagai tempat.
Editor : Ali Sodiqin