RADARSITUBONDO.ID - Situasi di Selat Hormuz menjadi lebih tegang setelah pasukan Iran mengambil sebuah kapal tanker minyak yang berasal dari Kepulauan Marshall pada Jumat (14/11) waktu setempat. Pejabat dari Amerika Serikat dan sumber keamanan laut internasional membenarkan penyitaan ini.
Kapal tanker yang bernama Talara sedang dalam perjalanan dari pantai Uni Emirat Arab ke Singapura ketika Iran menghentikannya secara paksa.
Kapal ini dioperasikan oleh Columbia Shipmanagement LTD yang berasal dari Siprus dan membawa muatan gasoil dengan kandungan sulfur tinggi.
Baca Juga: Drama Injury Time! Gol Bobček di Menit 91 Bawa Slovakia Kalahkan Irlandia Utara 1-0
Pengelola kapal mengakui bahwa mereka telah "kehilangan komunikasi" dengan Talara setelah kapal tersebut dipaksa untuk mengubah arah karena tindakan yang diduga dilakukan oleh negara.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga menyatakan bahwa ada dugaan "tindakan negara" yang memaksa kapal itu masuk ke perairan Iran.
Kepulauan Marshall dikenal sebagai sahabat dekat bagi Amerika Serikat. Wilayah ini sebelumnya dikelola oleh AS atas nama PBB dari tahun 1947 hingga 1978.
Walaupun sekarang menjadi negara yang merdeka, Amerika Serikat masih memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaga keamanan dan pertahanan Kepulauan Marshall berdasarkan kesepakatan khusus.
Baca Juga: Malta Tumbangkan Finland 1-0 di Helsinki, Harapan Piala Dunia Pupus
Penyitaan ini adalah laporan pertama dari Teheran mengenai pengambilan kapal tanker seiring dengan serangkaian serangan Israel dan AS terhadap Iran pada bulan Juni yang lalu.
Tindakan ini menambah daftar panjang ketegangan di salah satu jalur pelayaran yang sangat penting, yang membawa seperlima dari total pasokan minyak dunia.
Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, adalah tempat yang sangat penting untuk perdagangan energi di seluruh dunia. Setiap gangguan di area ini bisa menyebabkan perubahan harga minyak global dan mengganggu rantai pasokan internasional.
Editor : Ali Sodiqin