RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah China secara resmi menyampaikan peringatan kepada warganya untuk tidak pergi ke Jepang dalam waktu dekat.
Langkah ini diambil setelah adanya pernyataan yang menimbulkan kontroversi dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, tentang kemungkinan Jepang akan terlibat secara militer jika terjadi konflik antara China dan Taiwan.
Dalam sesi parlemen pada tanggal 7 November 2025, Takaichi mengatakan bahwa serangan bersenjata ke Taiwan bisa dianggap sebagai "situasi yang mengancam eksistensi" Jepang.
Pernyataan ini membuat Beijing marah, karena Taiwan, yang dianggap milik China, hanya berjarak 100 kilometer dari pulau Jepang yang terdekat.
Baca Juga: Drama Injury Time! Gol Bobček di Menit 91 Bawa Slovakia Kalahkan Irlandia Utara 1-0
Menanggapi ucapan tersebut, Kementerian Luar Negeri China melalui kedubesnya di Tokyo mengunggah peringatan di WeChat pada Jumat malam, 14 November.
Dalam postingan yang kini sudah dihapus itu, Beijing menyebut pernyataan Takaichi sebagai "provokasi jelas" yang membawa "risiko besar bagi keselamatan dan nyawa warga China di Jepang. "
Kedutaan Besar China dengan serius mengingatkan warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang dan meminta mereka yang sedang berada di sana untuk lebih waspada terhadap situasi keamanan di sekitar mereka.
Baca Juga: Malta Tumbangkan Finland 1-0 di Helsinki, Harapan Piala Dunia Pupus
Ketegangan semakin meningkat ketika Beijing memanggil duta besar Jepang untuk memberikan penjelasan. Di sisi lain, Tokyo juga memanggil duta besar China setelah unggahan yang dianggap tidak pantas itu.
Namun, pemerintah Jepang menegaskan bahwa sikapnya tentang Taiwan tetap sama dan mendorong penyelesaian yang damai melalui dialog.
Perdana Menteri Takaichi, yang terkenal tegas terhadap China dan mendukung Taiwan, tidak mau menarik kembali ucapannya, dan menyatakan bahwa pernyataannya konsisten dengan prinsip kebijakan Jepang selama ini.
Editor : Ali Sodiqin