RADARSITUBONDO.ID - Gelombang unjuk rasa kembali terjadi di ibu kota Amerika Serikat saat ratusan orang berdemo menuntut agar Presiden Donald Trump mundur dari jabatannya.
Aksi yang diadakan pada Sabtu (15/11), di depan Gedung Putih, Washington DC, menciptakan pemandangan yang mengesankan dengan pita kuning yang mengelilingi simbol kekuasaan eksekutif AS tersebut.
Para demonstran secara simbolis menempatkan garis polisi atau pita kuning (yang biasanya digunakan untuk menandai lokasi kejadian) di sekitar kompleks Gedung Putih.
Tindakan ini menjadi gambaran visual bahwa mereka melihat kepemimpinan Trump sebagai sebuah "kejahatan" terhadap demokrasi di Amerika.
Baca Juga: Brace Harry Kane Bungkam Albania 2-0, Inggris Sempurna di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Suasana di lokasi aksi ramai dengan berbagai poster yang menunjukkan ketidakpuasan orang banyak. Beberapa tulisan yang mencolok terlihat seperti "Trump Harus Pergi Sekarang", "Rakyat Menuntut Rezim Trump Runtuh", hingga tuduhan keras "Trump Rezim Fasis".
Seruan protes seperti "Trump harus pergi sekarang! " dan "Akhiri rezim fasis! " terdengar di sepanjang Pennsylvania Avenue, menunjukkan besarnya rasa kecewa publik terhadap banyak kebijakan kontroversial yang diambil oleh Trump.
Para peserta protes menuduh Trump telah menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadinya, melemahkan institusi hukum yang seharusnya berdiri sendiri, dan memperburuk perpecahan politik di negara ini.
Mereka juga menekankan adanya ancaman terhadap sistem checks and balances yang merupakan dasar demokrasi Amerika sejak negara ini berdiri.
Baca Juga: Swiss Bidik Tiket Otomatis, Swedia Harapkan Keajaiban Era Potter
Aksi protes ini bukanlah yang pertama sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025. Sebelumnya, pada April 2025, puluhan ribu orang juga berdemonstrasi dalam kampanye "Hands Off" yang berlangsung di lebih dari seribu kota.
Demonstrasi pada hari Sabtu lalu menunjukkan bahwa penolakan terhadap kepemimpinan Trump terus berlanjut dan semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.
Editor : Ali Sodiqin