RADARSITUBONDO.ID - Kementerian Pertahanan Rusia mengajukan tuduhan serius terhadap Ukraina mengenai serangan rudal jarak jauh yang terjadi pada (18/11).
Moskow mengklaim bahwa pasukan Ukraina meluncurkan empat rudal ATACMS yang dibuat di Amerika Serikat ke kota Voronezh, yang berada jauh di dalam Rusia.
Dalam pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Rusia, disebutkan bahwa serangan itu terjadi pada pukul 14.31 waktu Moskow dan ditujukan ke sasaran sipil di Voronezh.
Mereka juga menyatakan bahwa sistem pertahanan udara S-400 dan Pantsir berhasil menghentikan semua rudal yang datang.
Namun, serpihan dari rudal yang jatuh merusak atap di pusat gerontologi, sebuah panti asuhan untuk anak yatim, serta satu rumah pribadi.
Baca Juga: Pertemuan Investasi yang Berakhir Pembunuhan Juragan Kripto Rusia di Pegunungan Dubai
Militer Rusia menegaskan tidak ada warga sipil yang menjadi korban dalam kejadian ini. Sebagai tindakan balasan, pasukan Rusia langsung menemukan tempat peluncuran rudal di Kharkiv, Ukraina, dekat pemukiman Volosskaya Balakleya.
Dua peluncur roket dari Amerika kemudian dihancurkan dengan menggunakan sistem rudal taktis Iskander-M, yang mengakibatkan kematian hingga sepuluh anggota militer Ukraina.
Sementara itu, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengonfirmasi bahwa mereka memang menyerang fasilitas militer Rusia dengan rudal ATACMS dan menyebutnya sebagai "langkah penting".
Kyiv mendapatkan sistem rudal ini pada tahun 2023, tetapi awalnya hanya bisa digunakan di wilayah Ukraina. Baru pada akhir 2024, Presiden AS Joe Biden memberi izin agar Ukraina bisa menggunakan ATACMS untuk menyerang target di Rusia.
Baca Juga: Vonis Mati Eks PM Bangladesh: Jejak Kelam 15 Tahun Kekuasaan Sheikh Hasina
Rudal ATACMS dapat menjangkau hingga 300 kilometer dan sulit untuk dihentikan. Penggunaan senjata ini menunjukkan peningkatan baru dalam konflik yang sudah berlangsung lebih dari seribu hari.
Moskow melihat serangan oleh rudal Barat sebagai tanda keterlibatan langsung AS dan NATO dalam perang ini, sementara Kyiv menganggapnya sebagai langkah penting untuk menjaga wilayah yang dikuasai Rusia.
Editor : Ali Sodiqin