RADARSITUBONDO.ID - Nigeria kembali menghadapi tragedi kemanusiaan yang mengejutkan. Pada Jumat dini hari, (21/11) sekitar pukul 02.00 waktu setempat, sekelompok bersenjata menyerbu St. Mary's School, sebuah lembaga pendidikan Katolik swasta di daerah Papiri, Agwara, Negara Bagian Niger.
Serangan yang terencana ini berlangsung selama satu jam dan berujung pada penculikan massal 215 siswa serta 12 guru.
Kejadian kejam ini menjadi salah satu yang terburuk dalam hal penculikan di Nigeria dalam beberapa tahun terakhir.
Para penyerang mengambil keuntungan dari kegelapan malam untuk memanjat pagar sekolah dan menculik korban dari tempat tidur mereka di asrama. Seorang petugas keamanan sekolah terkena luka tembak serius saat berusaha melawan para penyerang.
Baca Juga: Kartu Merah Jadi Titik Balik! Persija Hajar Persik 3-1, Raih 5 Kemenangan Beruntun
Dauda Chekula, seorang pria berusia 62 tahun, mengungkapkan rasa putus asanya karena empat cucunya yang berusia antara tujuh hingga sepuluh tahun menjadi salah satu korban.
Beberapa siswa yang berhasil melarikan diri melihat teman-teman mereka dibawa oleh para penyerang masuk ke dalam hutan.
Menanggapi insiden ini, Presiden Bola Tinubu segera membatalkan rencananya untuk menghadiri KTT G20 di Afrika Selatan.
Wakil Presiden Kashim Shettima akan menggantikannya sebagai wakil dari delegasi Nigeria. Presiden telah memerintahkan semua badan keamanan untuk segera melakukan tindakan penyelamatan terhadap para korban.
Baca Juga: Semen Padang Putus Puasa Kemenangan, Permalukan Persijap 2-1 di Jepara
Menteri Pertahanan Alhaji Bello Matawalle juga terjun langsung untuk mengawasi operasi pencarian. Matawalle dikenal memiliki rekam jejak yang baik dalam menangani kasus sejenis, terbukti dari keberhasilannya membebaskan 279 pelajar di Zamfara pada tahun 2021.
Tim taktis kepolisian, personel militer, dan berbagai instansi keamanan lainnya saat ini sedang melakukan pencarian di kawasan hutan untuk menemukan para sandera.
Asosiasi Kristen Nigeria (CAN) melalui juru bicaranya, Daniel Atori, menyatakan sedang bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan anak-anak dapat kembali dengan selamat.
Kejadian ini bukanlah yang pertama. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada hari Senin, 18 November, sekelompok bersenjata juga telah menculik 25 siswi dari sebuah sekolah asrama di Negara Bagian Kebbi. Dalam insiden tersebut, wakil kepala sekolah ditembak mati, sedangkan 24 siswi masih belum ditemukan.
Pemerintah Negara Bagian Niger mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya telah menerima peringatan intelijen tentang ancaman keamanan yang meningkat di daerah tersebut.
Namun, pihak sekolah diduga telah membuka operasionalnya kembali tanpa izin atau pemberitahuan dari pemerintah negara bagian, sehingga menempatkan siswa dalam risiko yang sebenarnya dapat dihindari.
Editor : Ali Sodiqin