RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan militer antara China dan Taiwan yang semakin meningkat kini menarik perhatian internasional.
Sebuah laporan dari Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China kepada Kongres mengingatkan bahwa kemungkinan terjadinya perang dapat berakibat bencana besar bagi perekonomian global, dengan ancaman penurunan PDB global mencapai 10%. Kerugian demikian setara dengan dampak dari Krisis Keuangan Global pada tahun 2008.
Baca Juga: Kartu Merah Jadi Titik Balik! Persija Hajar Persik 3-1, Raih 5 Kemenangan Beruntun
Hilangnya hingga US$10 triliun dari perekonomian dunia dapat terjadi jika konflik meletus di Selat Taiwan. Taiwan bertanggung jawab terhadap lebih dari 60% kapasitas produksi semikonduktor global, termasuk 90% dari chip paling maju yang digunakan dalam komputer, smartphone, satelit, hingga kendaraan.
Gangguan dalam produksi chip ini dapat menghentikan aktivitas industri teknologi dan manufaktur di seluruh dunia secara langsung.
Selat Taiwan adalah jalur perdagangan yang sangat penting, dengan nilai ekonomi sekitar US$2,4 triliun bagi China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Sekitar 40% dari produk manufaktur global melewati jalur ini. Jika perang terjadi, hampir separuh dari total produksi manufaktur dunia akan terhenti, yang akan menghasilkan krisis pasokan serupa dengan yang terjadi selama pandemi Covid-19, namun dengan dampak yang jauh lebih besar.
Baca Juga: Semen Padang Putus Puasa Kemenangan, Permalukan Persijap 2-1 di Jepara
Indonesia akan sangat terpengaruh karena nilai ekonomi Selat Taiwan bagi negara ini diperkirakan mencapai US$156 miliar dari aktivitas ekspor-impor yang melalui jalur tersebut.
Sekitar 55% ekspor Indonesia ditujukan untuk Asia Timur, dan pelabuhan di wilayah tersebut menjadi lokasi transit yang sangat penting.
Rantai pasokan sektor industri Indonesia sangat tergantung pada Asia Timur untuk bahan mentah dan produk setengah jadi. Usaha kecil dan menengah di Indonesia, yang lebih dari 70% keperluan dagangannya bergantung pada impor dari China, akan mengalami krisis pasokan.
Gangguan dalam perdagangan dengan Taiwan, yang merupakan mitra dagang utama Indonesia khususnya dalam produk manufaktur, akan memberikan tekanan bagi perekonomian nasional.
Taiwan tetap menjadi salah satu titik paling mungkin untuk terjadinya konflik militer antara AS dan China, dengan risiko eskalasi nuklir serta perluasan pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik.
Angkatan Bersenjata China telah meningkatkan kemampuannya untuk melakukan blokade atau invasi tanpa banyak peringatan.
Perang akan memicu krisis pengungsi yang besar dan situasi kemanusiaan yang serius. Indonesia, dengan kebijakan non-blok yang telah lama dianut, akan menghadapi tantangan diplomatik yang rumit dalam menyeimbangkan hubungan dengan kedua belah pihak.
Ketegangan ini juga akan mengganggu stabilitas di kawasan Asia Tenggara dan memaksa sejumlah negara di kawasan ini untuk mengambil posisi yang sulit.
Editor : Ali Sodiqin