RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekankan bahwa korupsi di Ukraina menjadi salah satu rintangan besar dalam usaha untuk mencapai perdamaian dengan Rusia. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan wartawan di Air Force One pada Minggu.
Saat ditanya mengenai kemungkinan perdamaian antara Moskow dan Kyiv, Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa Ukraina menghadapi sejumlah masalah yang rumit.
Presiden AS tersebut secara khusus menyoroti isu korupsi yang sedang berlangsung, yang menurutnya menghambat proses perundingan.
Komentar Trump datang setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio melakukan dialog dengan perwakilan Ukraina di Florida. Pertemuan itu adalah bagian dari serangkaian negosiasi baru yang sedang diupayakan antara Washington dan Kyiv.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Timnas Indonesia di SEA Games 2025 Thailand
Pemerintahan Presiden Volodymyr Zelensky saat ini tengah dikejutkan oleh skandal korupsi besar di sektor energi, yang berkaitan dengan dana sekitar $100 juta.
Penyelidikan yang diberi nama Operasi Midas telah berjalan selama 15 bulan dan mencakup 1. 000 jam penyadapan telepon. Skandal ini melibatkan perusahaan energi nuklir negara, Energoatom, dengan tuduhan adanya skema suap yang melibatkan para kontraktor.
Dampak dari skandal ini sangat besar. Kepala Staf Presiden Ukraina, Andriy Yermak, yang sebelumnya memimpin delegasi perundingan damai, terpaksa mengundurkan diri. Dua menteri juga telah dipecat terkait kasus ini.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Timnas Indonesia Divisi Mobile Legends di SEA Games Thailand 2025
Walau situasi di Ukraina sedang tidak stabil, Trump tetap menyampaikan harapan bahwa perdamaian masih bisa terwujud. Ia menambahkan bahwa baik Rusia maupun Ukraina ingin konflik segera diakhiri, dan ada kesempatan besar untuk mencapai kesepakatan.
Namun, krisis korupsi ini terjadi pada waktu yang sangat penting bagi Ukraina. Kyiv berusaha keras menolak syarat perdamaian yang dianggap terlalu menguntungkan bagi Moskow, sementara di medan perang, pasukan Rusia terus menekan di garis depan.
Editor : Ali Sodiqin