RADARSITUBONDO.ID - Menteri Pertahanan Nigeria, Mohammed Badaru Abubakar, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari posisinya pada Senin (1/12).
Keputusan yang mengejutkan ini dibagikan oleh kantor kepresidenan di tengah situasi krisis keamanan yang melanda negara dengan populasi terbanyak di Afrika tersebut.
Juru bicara Presiden Bola Tinubu, Bayo Onanuga, menginformasikan bahwa Abubakar yang berusia 63 tahun mengundurkan diri karena masalah kesehatan.
Pengunduran diri ini terjadi segera setelah Tinubu mengumumkan status darurat keamanan nasional pada minggu sebelumnya, sehubungan dengan serangkaian penculikan massal yang mengguncang negeri ini.
Penculikan Massal Mengguncang Nigeria
Nigeria mengalami deretan kasus penculikan brutal sepanjang bulan November 2025. Insiden paling besar terjadi pada 21 November ketika kelompok bersenjata menyerang Sekolah St Mary di Papiri, Niger State, menculik lebih dari 300 pelajar dan pengajar. Walaupun 50 orang berhasil melarikan diri, sekitar 265 orang masih dalam keadaan ditawan hingga saat ini.
Penasihat Keamanan Nasional Nigeria, Nuhu Ribadu, saat mengunjungi Kontagora berusaha menenangkan warga setempat dengan mengatakan bahwa para korban dalam kondisi baik dan akan segera dibebaskan. Namun, kepastian mengenai waktu pengembalian mereka masih belum bisa dipastikan.
Data dari lembaga analisis SBM Intelligence menunjukkan betapa seriusnya krisis ini. Antara Juli 2024 dan Juni 2025, tercatat 997 kejadian penculikan dengan jumlah total 4. 722 korban. Para penjahat menuntut tebusan mencapai 48 miliar naira, meskipun hanya sekitar 2,57 miliar naira yang berhasil dikumpulkan.
Baca Juga: Data Terkini BNPB, Korban Meninggal Bencana Sumatera Capai 659 Orang, 475 Masih Hilang
Respons Pemerintah
Dalam menghadapi keadaan darurat ini, Presiden Tinubu memerintahkan untuk segera merekrut banyak personel polisi dan militer.
Sebanyak 50.000 petugas polisi baru akan direkrut, sementara pengawal VIP akan dialihkan untuk memperkuat patroli keamanan di lokasi.
Nigeria telah berjuang melawan penculikan massal sejak kelompok Boko Haram menculik hampir 300 siswi dari Chibok lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Saat ini, ancaman tidak hanya berasal dari kelompok jihadis, tetapi juga dari geng kriminal yang menjadikan penculikan sebagai sebuah industri terencana untuk mendapatkan uang tebusan secara cepat.
Editor : Ali Sodiqin