RADARSITUBONDO.ID - Pemimpin Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, memberikan kritik keras terhadap meningkatnya sentimen anti-Muslim di Eropa dan Amerika Serikat.
Pernyaataan ini disampaikan saat khotbah misa di Beirut, Lebanon pada Selasa (2/12), sebagai bagian dari kunjungan apostolik pertamanya ke luar Italia.
Paus yang berusia 70 tahun itu berbicara kepada media di dalam pesawat dalam perjalanan pulang ke Roma setelah menyelesaikan kunjungannya ke Turki dan Lebanon. Pada kesempatan ini, ia mengkritik para aktivis anti-imigran yang menimbulkan ketakutan terhadap Islam.
Baca Juga: Trump Hentikan Imigrasi dari 19 Negara, Myanmar dan Laos Termasuk dalam Daftar
Menurut Paus Leo XIV, sikap anti-Muslim ini sering kali dipicu oleh orang-orang yang menolak kedatangan imigran dan berusaha menutup akses bagi individu dari latar belakang, agama, atau ras yang berbeda. Ia menegaskan bahwa contoh kerukunan dan kolaborasi antara umat Kristiani dan Muslim di Lebanon seharusnya menjadi teladan bagi negara-negara Barat.
Paus menambahkan bahwa kunjungannya ke Lebanon bertujuan untuk menunjukkan bahwa dialog dan persahabatan antara Muslim dan Kristen adalah hal yang mungkin.
Selama perjalanan, ia mendengar kisah-kisah menginspirasi mengenai komunitas Kristen dan Muslim yang saling membantu, termasuk di desa-desa yang pernah hancur akibat konflik.
Dalam acara antaragama di Lapangan Martir Beirut, Paus Leo XIV mengapresiasi tradisi toleransi di Lebanon sebagai simbol perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Pertemuan yang bermakna ini melibatkan patriark Kristen serta para pemimpin spiritual Sunni, Syiah, dan Druze dalam satu tempat.
Paus yang lahir di Amerika Serikat ini, yang memiliki pengalaman dua puluh tahun sebagai misionaris di Peru, dikenal kritis terhadap semangat nasionalisme yang berlebihan.
Ia meminta pengikutnya untuk menolak cara berpikir eksklusif yang dapat memicu gejala nasionalis di berbagai kawasan dunia.
Baca Juga: Malaysia Belum Menyerah, Pencarian Pesawat MH370 Dilanjutkan
Dengan sepertiga dari total lima juta penduduknya beragama Kristen, Lebanon memiliki proporsi Kristen tertinggi di kawasan Timur Tengah. Negara ini menerapkan sistem pembagian kekuasaan berdasarkan agama sejak memperoleh kemerdekaan dari Prancis, di mana presiden harus berasal dari kalangan Maronite Kristen.
Kunjungan Paus Leo XIV terjadi di tengah ketegangan regional pasca konflik Israel-Hizbullah, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan kebuntuan politik yang dialami Lebanon.
Meskipun demikian, pesannya mengenai toleransi dan dialog antaragama memberikan harapan baru bagi masyarakat Lebanon yang telah lama mengalami berbagai krisis.
Editor : Ali Sodiqin