RADARSITUBONDO.ID - Gempa bumi dengan magnitudo 7,6 mengguncang daerah lepas pantai di Prefektur Aomori, timur laut Jepang, pada Senin (8/12) pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB.
Pusat dari gempa tersebut berada pada kedalaman antara 37 sampai 53 kilometer, dengan episentrum sekitar 72-74 kilometer ke arah timur laut dari Hachinohe.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) langsung merilis peringatan tsunami, menyatakan adanya potensi gelombang setinggi 3 meter untuk wilayah pantai Hokkaido, Aomori, dan Iwate.
Di pelabuhan Mutsu Ogawara dan Urakawa, telah tercatat gelombang tsunami setinggi 40-50 sentimeter pada dini hari.
Intensitas gempa ini dicatat mencapai level upper-6 pada skala shindo di Hachinohe, yang menunjukkan adanya guncangan kuat yang berpotensi menyebabkan kerusakan besar pada bangunan.
Guncangan ini juga terasa sampai Tokyo, yang berjarak 600 kilometer dari episentrum, dengan durasi getaran horizontal mencapai 30 detik.
JR East, sebagai operator kereta api, menghentikan sementara layanan Tohoku Shinkansen antara Stasiun Fukushima dan Shin Aomori sebagai langkah pencegahan.
Beberapa area di Hokkaido dan Tohoku mengalami pemadaman listrik. Media setempat melaporkan adanya korban luka di kota Hachinohe, dengan pecahan kaca berserakan di jalan.
Baca Juga: Bangkok United Beri Penghormatan Khusus Jelang Laga, Bawa Jersey Pratama Arhan
Perdana Menteri Sanae Takaichi segera membentuk tim tanggap darurat dan memerintahkan evakuasi bagi penduduk yang tinggal di pesisir.
Otoritas menjamin bahwa operasional di fasilitas pembangkit nuklir yang ada di prefektur yang terkena dampak tidak terganggu.
Setelah gempa utama, terjadi beberapa gempa susulan dengan magnitudo antara 4,2 hingga 5,5 dalam beberapa jam. Para ahli memperkirakan akan ada sekitar 50-100 gempa susulan dalam 48 jam mendatang.
BMKG Indonesia memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami di Indonesia.
Jepang mencabut peringatan tsunami pada Selasa (9/12) dini hari setelah situasi dinyatakan aman. Proses pemantauan kerusakan dan operasi pencarian masih berlangsung.
Editor : Ali Sodiqin