RADARSITUBONDO.ID - Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul resmi menutup parlemen pada Jumat (12/12/2025) setelah mendapatkan persetujuan dari Raja Maha Vajiralongkorn melalui surat resmi yang diumumkan di Lembaran Kerajaan Thailand.
Langkah ini membuka kesempatan untuk melakukan pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu 45 hingga 60 hari ke depan.
Baca Juga: Terungkap! Kakek Pencuri Burung Cendet Ternyata Pernah Diperingatkan, Fakta Lama Kembali Mencuat
Penutupan parlemen terjadi saat Thailand menghadapi dua masalah besar: sengketa perbatasan dengan Kamboja yang sudah berlangsung selama empat hari, serta krisis politik di dalam negeri.
Bentrokan di perbatasan sudah menyebabkan 20 orang tewas dan hampir 200 orang luka-luka, dengan pertempuran terjadi di berbagai lokasi termasuk baku tembak menggunakan artileri berat.
Baca Juga: Haru! Kakek 71 Tahun Bersimpuh di Pengadilan, Minta Dibebaskan dari Kasus Burung Cendet Baluran
Juru Bicara Pemerintah Siripong Angkasakulkiat mengatakan bahwa keputusan ini diambil karena tidak ada kesepakatan yang tercapai dengan Partai Rakyat, yang merupakan kelompok oposisi terbesar di parlemen.
Partai tersebut meminta diadakannya referendum untuk mengubah konstitusi sebagai syarat dukungan koalisi, tetapi permintaan mereka tidak terpenuhi.
Baca Juga: Penelitian Dosen UNARS Soal Pariwisata Berkelanjutan Banjir Apresiasi Pakar Lintas Kampus
Anutin, yang merupakan perdana menteri yang ketiga di Thailand sejak Agustus 2023, mengungkapkan bahwa penutupan parlemen tidak akan mempengaruhi kegiatan militer di perbatasan.
Ia sebelumnya berencana untuk membubarkan parlemen di akhir Januari, tetapi keputusan ini dipercepat untuk menghindari kemungkinan mosi tidak percaya dari kelompok oposisi.
Editor : Ali Sodiqin