Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Banjir Bandang Terjang Safi Maroko, 37 Orang Tewas di Tengah Kekeringan 7 Tahun

Bayu Shaputra • Selasa, 16 Desember 2025 | 17:35 WIB
Ilustrasi banjir yang menghantam Maroko.
Ilustrasi banjir yang menghantam Maroko.

RADARSITUBONDO.ID - Banjir besar melanda kota pesisir Safi, Maroko, pada Minggu (14/12), mengakibatkan sedikitnya 37 orang kehilangan nyawa. Bencana ini menjadi salah satu tragedi terparah yang dialami negara tersebut dalam sepuluh tahun terakhir.

Hujan yang tiba-tiba mengguyur menyebabkan air bercampur lumpur meluap, menerjang jalanan kota. Arus deras menyeret mobil, tempat sampah, dan berbagai barang dari trotoar di Safi, yang terletak sekitar 300 kilometer di selatan ibu kota Rabat.

Sebanyak 14 orang yang selamat saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Mohammed V. Dua di antaranya dalam kondisi sangat serius dan mendapatkan perawatan intensif. Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan untuk mencari kemungkinan korban yang hilang.

Direktorat Jenderal Meteorologi Maroko telah memberikan peringatan bahwa badai petir mungkin akan terjadi selama tiga hari ke depan di beberapa daerah, termasuk Safi. Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa hujan lebat akan kembali terjadi pada Selasa, 16 Desember 2025.

 Baca Juga: Jumlah CJH Situbondo 2026 Bisa Tembus Seribu Orang

Setidaknya 70 rumah dan usaha di pusat kota bersejarah terendam air. Safi, yang terkenal sebagai pusat seni dan kerajinan, terutama tembikar terakota, mengalami kerugian ekonomi yang besar. Jalan-jalan kota dipenuhi dengan pecahan mangkuk dan tajine yang rusak akibat banjir.

Abdelkader Mezraoui, seorang pemilik toko berusia 55 tahun, mengatakan bahwa ekonomi ritel di kota ini hancur sepenuhnya. Pemilik toko perhiasan dan pakaian kehilangan semua stok barang mereka.

Sekolah-sekolah di Safi dan area sekelilingnya ditutup setidaknya selama tiga hari karena jalan-jalan dipenuhi lumpur dan puing. Akses jalan menuju kota pelabuhan ini juga terputus akibat kerusakan infrastruktur.

Hanane Nasreddine, seorang ibu dari enam anak, berbagi cerita tentang kehilangan segalanya, termasuk buku pelajaran anak-anaknya. Sementara itu, warga lainnya, Nezha El Meghouari, mengungkapkan bahwa dia hanya memiliki beberapa menit untuk menyelamatkan diri dari rumahnya sebelum air naik.

 Baca Juga: Kebakaran Pasar Induk Kramat Jati, 16 Unit Damkar Dikerahkan

Kejaksaan Maroko telah memulai penyelidikan untuk menentukan apakah ada pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan yang besar ini. Pejabat setempat mengadakan pertemuan darurat untuk merumuskan langkah-langkah penanganan bencana.

Ironisnya, banjir ini terjadi di tengah kondisi kekeringan panjang yang melanda Maroko selama tujuh tahun berturut-turut. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun dengan suhu tertinggi dalam sejarah Maroko.

Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca, membuat hujan turun lebih singkat tetapi dengan intensitas yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang di daerah pesisir.

Editor : Ali Sodiqin
#Banjir bandang Maroko