RADARSITUBONDO.ID - Pertempuran bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang dimulai pada Februari 2025 telah menghasilkan dampak yang signifikan baik dari segi kemanusiaan maupun ekonomi bagi kedua negara dan kawasan ASEAN.
Perseteruan ini, yang berasal dari sengketa perbatasan sepanjang 817 kilometer, mencapai titik terburuknya pada Juli 2025, dengan menewaskan setidaknya 38 orang dan memaksa lebih dari 300. 000 orang untuk mengungsi.
Baca Juga: Xiaomi Kembangkan Ponsel Baterai 10.000 mAh dengan Ketebalan di Bawah 8,5 mm
Operasi militer Thailand melibatkan jet tempur F-16 yang menyerang lokasi-lokasi di Kamboja, menjadi pertempuran udara pertama sejak konflik antara Thailand dan Laos.
Lebih dari 1.200 sekolah terpaksa ditutup, dan jalur perdagangan senilai USD 4,7 miliar per tahun mengalami kebuntuan total.
Baca Juga: Realme GT 8 Pro Absen di Indonesia, Namun Ada Kejutan Lain di 2026
ASEAN sebagai organisasi regional kini menghadapi tantangan terhadap kredibilitasnya. Malaysia yang memegang posisi sebagai ketua ASEAN 2025 berhasil memfasilitasi gencatan senjata pada 28 Juli, yang kemudian diresmikan melalui Kuala Lumpur Peace Accord pada 26 Oktober.
Namun, pertempuran kembali terjadi pada 7 Desember 2025, menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mekanisme penyelesaian konflik yang dimiliki ASEAN.
Baca Juga: Papua Diminta Tanam Kelapa Sawit untuk Kurangi Impor BBM Nasional
China dan Amerika Serikat juga terlibat dalam upaya mediasi, menunjukkan adanya persaingan pengaruh kekuatan besar di wilayah tersebut.
Konflik ini mengungkapkan kelemahan struktural ASEAN dalam mencegah dan menangani krisis keamanan di antara anggotanya, yang dapat mengancam stabilitas keseluruhan di Asia Tenggara daratan.
Editor : Ali Sodiqin