RADARSITUBONDO.ID - Bentrokan antara Thailand dan Kamboja kembali terjadi pada 7 Desember 2025 dalam sebuah pertempuran singkat yang berlangsung selama 30 menit, diikuti dengan serangan darat dan pengeboman oleh jet F-16 Thailand keesokan harinya.
Konflik ini adalah kelanjutan dari ketegangan yang berkepanjangan mengenai area perbatasan sepanjang 817 kilometer yang berasal dari perjanjian kolonial Franco-Siam antara tahun 1904 dan 1907.
Baca Juga: Xiaomi Kembangkan Ponsel Baterai 10.000 mAh dengan Ketebalan di Bawah 8,5 mm
Eskalasi besar-besaran terjadi pada Juli 2025 ketika setidaknya 38 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 300.000 warga terpaksa mengungsi.
Thailand mengirimkan jet tempur F-16 untuk menyerang lokasi militer Kamboja di Prasat Ta Muen Thom dan Prasat Ta Krabey, menandai penggunaan kekuatan udara Thailand yang pertama sejak terjadinya konflik perbatasan antara Thailand dan Laos.
Konflik ini mengganggu perdagangan antar negara senilai $4,7 miliar per tahun, terutama di jalur Klong Luek-Poipet. Thailand juga menyerang lima kasino Kamboja yang diduga menjadi tempat untuk aktivitas penipuan online. Delapan distrik di Thailand telah menyatakan status darurat militer.
Baca Juga: Realme GT 8 Pro Absen di Indonesia, Namun Ada Kejutan Lain di 2026
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata pada Oktober 2025, tetapi pertempuran terus berlanjut sejak awal Desember.
Thailand menuntut agar Kamboja mengumumkan gencatan senjata terlebih dahulu, sementara kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang bersalah.
Sampai saat ini, upaya diplomasi oleh ASEAN, China, dan AS belum mampu menghentikan konflik secara permanen.
Editor : Ali Sodiqin