RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah merilis rencana besar untuk melibatkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS dalam mengambil alih dan memperbaharui sektor perminyakan di Venezuela.
Rencana ini diumumkan beberapa jam setelah operasi militer AS berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro pada pagi hari, 3 Januari 2026.
Dalam sebuah konferensi pers di resornya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump mengungkapkan kesiapan perusahaan-perusahaan energi terkemuka dunia untuk menginvestasikan miliaran dolar.
Tujuannya adalah untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang mengalami kerusakan parah dan mengembalikan tingkat produksi energi negara bagian Amerika Selatan ini.
Baca Juga: Caracas Diguncang Ledakan, Presiden Maduro Umumkan Keadaan Darurat Atas Serangan AS
Chevron adalah perusahaan AS yang paling diuntungkan oleh keadaan ini. Raksasa minyak yang telah beroperasi di Venezuela sejak tahun 1923, kini mengekspor sekitar 140.000 barel minyak per hari dari kelima proyek produksinya, baik darat maupun lepas pantai.
Kevin Slagle, juru bicara Chevron, mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut siap bekerja secara produktif dengan memanfaatkan pengalaman dan keberadaannya untuk memperkuat keamanan energi di AS.
Francisco Monaldi, Direktur Program Energi Amerika Latin di Baker Institute Universitas Rice, menyoroti beberapa perusahaan kunci yang mungkin kembali ke Venezuela.
ConocoPhillips diperkirakan akan sangat berminat karena piutang mereka mencapai lebih dari 10 miliar dolar AS, setara dengan sekitar 167 triliun rupiah. ExxonMobil juga dianggap memiliki potensi untuk kembali meskipun jumlah utangnya lebih kecil.
Baca Juga: Selamat Datang John Herdman, Harapan Baru Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
Ketiga perusahaan tersebut dianggap tidak akan ragu untuk berinvestasi dalam minyak berat Venezuela, mengingat jenis minyak ini masih sangat diperlukan di Amerika Serikat dan mereka cenderung kurang memperhatikan agenda dekarbonisasi dibandingkan perusahaan-perusahaan energi di Eropa.
Venezuela memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak terbukti yang ada di bawah permukaan, menjadikannya negara dengan cadangan terbesar di dunia.
Namun, produksi aktual negara ini hanya sekitar 921.000 barel per hari pada bulan November 2025, jauh dari potensi maksimal akibat dari bertahun-tahun kurangnya investasi dan perawatan infrastruktur.
Editor : Ali Sodiqin