Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Setelah Venezuela, Mengapa Greenland Jadi Target Strategis Donald Trump?

Bayu Shaputra • Selasa, 6 Januari 2026 | 22:25 WIB
Desa Ilulissat di Greenland.
Desa Ilulissat di Greenland.

RADARSITUBONDO.ID - Presiden Donald Trump kembali menegaskan hasratnya untuk mengintegrasikan Greenland, sebuah wilayah otonom milik Denmark yang kaya akan sumber daya di kawasan Arktik.

Dalam pernyataannya di dalam pesawat Air Force One, Trump menekankan pentingnya AS memiliki pulau seluas 2,16 juta kilometer persegi ini demi keamanan nasional.

"Greenland banyak dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Cina di mana pun," kata Trump, menjelaskan ancaman geopolitik yang mengintai kawasan Arktik.

Lokasi strategis Greenland menjadi fokus perhatian, dimana ibu kotanya, Nuuk, terletak 2.900 kilometer dari New York, lebih dekat dibandingkan Copenhagen yang berjarak 3. 500 kilometer.

 Baca Juga: Seru dan Edukatif! IHC RS Elizabeth Ajak Anak TK Kenal Dunia Medis Lewat Hospital Adventure

Sebenarnya, Amerika Serikat telah memiliki kehadiran militer di Greenland sejak Perang Dunia II melalui Pangkalan Luar Angkasa Pituffik.

Perjanjian Pertahanan Greenland yang ditandatangani pada tahun 1951 memberikan akses luas bagi AS ke wilayah tersebut, namun Trump merasa ini masih belum cukup untuk berhadapan dengan ekspansi militer Rusia dan China di Arktik.

Di bulan Desember 2025, Trump mengangkat Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk urusan Greenland, tindakan yang membuat Denmark sangat marah.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dengan tegas menyatakan bahwa Greenland merupakan bagian dari NATO dan dilindungi oleh jaminan keamanan dari aliansi tersebut.

 Baca Juga: Operasi Militer AS di Venezuela Tewaskan 80 Orang, Termasuk Pengawal Maduro

Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menekankan bahwa negara mereka bukanlah objek dalam retorika kekuatan besar.

Dengan jumlah penduduk sekitar 57.000, Greenland telah secara konsisten menolak untuk dijual atau dianeksasi. Para ahli berpendapat bahwa meskipun Trump serius mengenai tujuannya, tindakan militer terhadap sekutu NATO dapat menyebabkan risiko eskalasi yang sangat besar.

Trump pernah mencoba untuk membeli Greenland pada tahun 2019 selama masa kepresidenannya yang pertama, tetapi tawarannya langsung ditolak oleh Denmark.

Saat ini, dengan latar belakang operasi militer AS yang berhasil di Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro, kekhawatiran di Eropa mengenai niat Trump terhadap Greenland semakin meningkat.

Walaupun Trump mengklaim keamanan nasional sebagai alasan utamanya, para analis percaya bahwa kekayaan mineral Greenland juga menjadi daya tarik yang sangat besar.

Pulau ini menyimpan cadangan mineral langka yang sangat berharga untuk industri teknologi modern, menjadikannya aset strategis di tengah persaingan global antara AS, Rusia, dan China.

Editor : Ali Sodiqin
#Greenland #Perdana Menteri Denmark #Donald Trump