RADARSITUBONDO.ID - Amerika Serikat (AS) melakukan peningkatan kekuatan militer secara signifikan di kawasan Timur Tengah menyusul memanasnya hubungan dengan Iran. Salah satu langkah yang diambil adalah mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak kelas Arleigh Burke ke wilayah komando militer AS guna memperkuat keamanan dan daya tangkal regional.
Dalam beberapa hari terakhir, Washington juga menambah berbagai sistem pertahanan udara. Sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) tambahan serta rudal Patriot terpantau berada di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, pekan lalu.
Selain itu, pesawat angkut militer C-17A dilaporkan mengirim perlengkapan tempur ke Pangkalan Ali Al Salem di Kuwait dan Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi selama tiga hari berturut-turut.
Baca Juga: Selebgram Berlliana Lovell Siap Nikah, Kini Sedang Cari Jodoh yang Setara
Langkah ini disebut sebagai salah satu akumulasi kekuatan militer AS terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Pesawat E-11A juga telah mendarat di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.
Pesawat tersebut merupakan aset penting untuk mendukung koordinasi operasi militer yang kompleks. Dengan modifikasi khusus, E-11A berfungsi sebagai sistem relay komunikasi dari ketinggian tinggi bagi pasukan udara maupun darat.
Pada Juni 2025, jumlah personel militer AS di kawasan diperkirakan mencapai 40 ribu hingga 50 ribu orang. Mereka tersebar di sejumlah pangkalan permanen di Bahrain, Mesir, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Suriah, dan Uni Emirat Arab. Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut “armada” negaranya sedang bergerak menuju Teluk, pernyataan yang memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik.
Baca Juga: Komdigi Buka Akses Grok AI dengan Syarat Ketat, Pengawasan Tetap Berlanjut
Sistem pertahanan yang dikerahkan mengandalkan kombinasi dua teknologi utama, yakni kemampuan intersepsi jarak jauh THAAD dan sistem Patriot PAC-3. Keduanya dinilai krusial untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan, terutama jika Iran menargetkan instalasi militer AS atau negara sekutunya di kawasan.
Peningkatan kekuatan ini berlangsung di tengah ancaman berulang Trump terkait opsi militer. Presiden AS itu menegaskan, apabila Iran menolak kesepakatan, maka “serangan berikutnya akan jauh lebih buruk” dibandingkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang terjadi pada Juni lalu.
Editor : Ali Sodiqin