Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Di Tengah Ancaman Kapal Induk AS, Iran Buka Pintu Diplomasi Nuklir

Bayu Shaputra • Rabu, 4 Februari 2026 | 11:00 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan militer yang meningkat di Timur Tengah mulai diimbangi dengan langkah diplomatik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikabarkan telah menginstruksikan pemerintahnya untuk kembali membuka jalur perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.

Kabar tersebut dilaporkan kantor berita Fars, Senin (2/2/2026), dengan mengutip sumber pemerintah Iran yang enggan disebutkan namanya. Keputusan ini diambil di tengah situasi diplomasi yang memanas antara Teheran dan Washington.

Langkah Iran itu menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka mendorong Teheran memilih jalur dialog ketimbang konfrontasi militer. Meski demikian, Trump juga mengirimkan armada kapal induk ke kawasan Timur Tengah sebagai sinyal tekanan terhadap Iran.

 Baca Juga: Rivalitas Klasik Asia Tenggara, Indonesia Hadapi Vietnam di Babak 8 Besar Piala Asia Futsal

Sejumlah laporan media Iran dan sumber diplomatik menyebutkan, pertemuan tingkat tinggi antara kedua negara berpeluang digelar di Istanbul, Turki, pada Jumat mendatang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, untuk membahas peluang kesepakatan terkait program nuklir Iran.

Beberapa negara kawasan seperti Mesir, Qatar, Turki, dan Oman disebut berperan sebagai mediator guna meredakan ketegangan antara dua negara yang telah lama berseteru tersebut.

Araghchi menyatakan kesiapan Iran mencapai kesepakatan. Ia menegaskan bahwa Teheran sejalan dengan pernyataan Trump soal larangan kepemilikan senjata nuklir. “Presiden Trump mengatakan tidak ada senjata nuklir, dan kami sepakat sepenuhnya. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik,” ujarnya.

Sebagai timbal balik, Iran berharap Amerika Serikat bersedia mencabut sanksi ekonomi yang selama bertahun-tahun membebani perekonomian dan kehidupan masyarakat Iran.

Namun demikian, Araghchi menegaskan bahwa negaranya menolak berunding di bawah tekanan. Menurutnya, Iran hanya bersedia berdiplomasi dalam posisi setara dan saling menghormati demi kepentingan nasional.

Senada, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan bahwa berbagai opsi diplomatik untuk menurunkan eskalasi dengan AS masih dikaji.

Ia menyebut hasil dari proses tersebut diharapkan dapat diketahui dalam beberapa hari ke depan. “Negara-negara kawasan menjadi perantara dalam penyampaian pesan antara kedua pihak,” ujarnya.

Sebagai catatan, dialog nuklir Iran-AS sebelumnya terhenti pada Juni 2025 setelah Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran yang memicu konflik bersenjata selama hampir dua pekan. Teheran kemudian menghentikan komunikasi dengan Washington dengan menuding AS ikut bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani mengonfirmasi bahwa persiapan teknis dan struktural untuk negosiasi tengah dilakukan. Presiden Pezeshkian juga menegaskan bahwa perang tidak akan membawa keuntungan bagi Iran, Amerika Serikat, maupun stabilitas kawasan.

Meski sinyal dialog mulai menguat, situasi keamanan masih rapuh. Iran memperingatkan akan melancarkan serangan balasan ke pangkalan dan kapal AS jika terjadi agresi militer. Di sisi lain, Trump belum mengungkap secara rinci langkah Washington selanjutnya, seraya menyatakan bahwa komunikasi dengan Teheran masih berlangsung.

Editor : Ali Sodiqin
#iran #Presiden Masoud Pezeshkian #Amerika Serikat