Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Dunia Memasuki Fase Berbahaya, New START AS-Rusia Mencapai Akhir

Bayu Shaputra • Rabu, 4 Februari 2026 | 20:22 WIB
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Rusia.
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Rusia.

RADARSITUBONDO.ID - Dunia dinilai memasuki fase baru yang lebih berisiko setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara Rusia dan Amerika Serikat resmi berakhir pada 5 Februari.

Berakhirnya kesepakatan ini menandai momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, dua negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia tidak lagi terikat aturan hukum dalam pengembangan senjata nuklir strategis.

New START yang ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Rusia saat itu Dmitry Medvedev dan Presiden AS Barack Obama selama ini menjadi pilar terakhir pengendalian senjata pemusnah massal.

Dalam perjanjian tersebut, Washington dan Moskow diberi tenggat tujuh tahun untuk memenuhi sejumlah pembatasan utama, termasuk batas maksimal 700 sistem peluncur senjata nuklir strategis yang dikerahkan, seperti rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik berbasis kapal selam (SLBM), serta pesawat pembom berat berkekuatan nuklir.

 Baca Juga: Lionel Messi Berikan Lampu Hijau ke Galatasaray dengan Ketentuan Tidak Biasa

Selain itu, perjanjian ini juga menetapkan batas maksimal 1.550 hulu ledak nuklir bagi masing-masing negara.

Berakhirnya New START terjadi di tengah memanasnya situasi geopolitik global. Hingga kini, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump belum memberikan tanggapan resmi atas tawaran Rusia untuk memperpanjang perjanjian tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menanggapi sikap diam Washington dengan pernyataan singkat namun tajam, bahwa ketiadaan respons juga merupakan bentuk jawaban.

 Baca Juga: Purbaya Percaya Diri Atasi Tantangan Ekonomi, Yakin Lebih Baik dari Menteri Sebelumnya

Peringatan juga disampaikan oleh Dmitry Medvedev yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia. Ia menegaskan bahwa meskipun berakhirnya New START tidak otomatis memicu perang nuklir, kondisi ini tetap patut menjadi sumber kekhawatiran serius bagi komunitas internasional.

Situasi semakin kompleks setelah Amerika Serikat mendorong agar China ikut terlibat dalam perundingan pengendalian senjata nuklir. Namun, Beijing sejauh ini menunjukkan sikap enggan untuk ambil bagian. Padahal, data Federasi Ilmuwan Amerika mencatat Rusia dan AS secara bersama-sama menguasai sekitar 87 persen dari total hulu ledak nuklir yang ada di dunia.

Tanpa kesepakatan pengganti, dunia kini memasuki era tanpa mekanisme transparansi dan verifikasi yang selama ini berperan menjaga keseimbangan kekuatan nuklir global. Sejumlah pakar keamanan menilai, kondisi ini berisiko memicu perlombaan senjata nuklir baru yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan internasional.

Editor : Ali Sodiqin
#Rusia #Perjanjian New START #Amerika Serikat