RADARSITUBONDO.ID - Jepang dilanda cuaca ekstrem sejak 20 Januari hingga awal Februari 2026. Badai salju dahsyat yang disebut sebagai yang terparah dalam 40 tahun terakhir itu telah menewaskan sedikitnya 30 orang.
Kawasan di sepanjang pesisir Laut Jepang menjadi wilayah paling terdampak, terutama Prefektur Aomori yang mencatat ketebalan salju hingga 4,5 meter di sejumlah daerah terpencil.
Peristiwa paling tragis terjadi di Kota Ajigasawa, Aomori. Seorang lansia berusia 91 tahun bernama Kina Jin ditemukan meninggal dunia setelah tertimbun salju setinggi sekitar tiga meter di halaman rumahnya.
Polisi menyatakan korban meninggal akibat kehabisan napas. Di dekat jasad korban ditemukan sekop aluminium, mengindikasikan bahwa ia sedang membersihkan salju sebelum tertimpa longsoran dari atap rumah.
Baca Juga: Olimpiade Musim Dingin 2026: Jadwal Lengkap, Lokasi, dan Cabang Olahraga yang Dipertandingkan
Menanggapi situasi darurat tersebut, Perdana Menteri Sanae Takaichi menggelar rapat kabinet darurat pada Selasa pagi. Ia memerintahkan seluruh jajaran menteri untuk mengerahkan upaya penyelamatan secara maksimal.
Sementara itu, Gubernur Aomori Soichiro Miyashita meminta dukungan Pasukan Bela Diri Jepang guna membantu warga lanjut usia yang hidup sendirian, kelompok yang dinilai paling rentan dalam kondisi cuaca ekstrem ini.
Di Kota Aomori, ibu kota prefektur, tumpukan salju di sisi jalan dilaporkan mencapai 1,8 meter, membuat petugas kebersihan kewalahan. Kondisi serupa juga terjadi di Sapporo. Sekitar 1.000 unit alat berat pembersih salju dikerahkan untuk membuka kembali sekitar 3.800 kilometer jalan yang tertutup salju tebal.
Baca Juga: PSIM Jogja Resmi Datangkan Bek Belanda Jop van der Avert
Badan meteorologi setempat menyebut badai salju ini dipicu oleh aliran massa udara dingin yang sangat kuat di sepanjang Laut Jepang. Di sejumlah wilayah, volume salju yang turun bahkan mencapai dua kali lipat dari rata-rata tahunan.
Gubernur Miyashita pun mengingatkan potensi bahaya lanjutan, seperti kecelakaan akibat salju yang jatuh dari atap serta risiko runtuhnya bangunan akibat beban berlebih.
Saat ini, pemerintah memprioritaskan evakuasi warga yang terisolasi dan upaya pencegahan keruntuhan bangunan. Lebih dari 100 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara aktivitas transportasi, termasuk penerbangan dan layanan kereta api, mengalami gangguan signifikan.
Editor : Ali Sodiqin