RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan pembentukan perjanjian pengendalian senjata nuklir yang baru dengan Rusia, menyusul berakhirnya perjanjian New START pada Kamis (5/2/2026).
Berakhirnya kesepakatan tersebut memunculkan kekhawatiran internasional akan potensi munculnya kembali perlombaan senjata nuklir antara dua negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia.
Melalui unggahan di platform Truth Social beberapa jam setelah New START berakhir, Trump menilai perjanjian tersebut sebagai kesepakatan yang dirundingkan secara buruk oleh Amerika Serikat. Ia mendorong para pakar nuklir untuk merancang perjanjian baru yang lebih kuat, modern, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pemulihan Pascabanjir Situbondo Butuh Rp 160 Miliar, Bupati: Risiko Sosial-Ekonomi Mengintai
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan bahwa Washington tetap membuka jalur komunikasi dengan Moskow untuk membahas kemungkinan perjanjian baru.
Namun, saat ditanya apakah kedua negara sepakat mempertahankan ketentuan New START selama masa negosiasi, Leavitt menegaskan tidak ada kesepakatan semacam itu sejauh yang ia ketahui.
Perjanjian New START yang ditandatangani pada 2010 sebelumnya mengatur pembatasan jumlah senjata nuklir strategis yang dapat dikerahkan Amerika Serikat dan Rusia.
Kesepakatan tersebut membatasi masing-masing negara maksimal memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan pada 700 sistem peluncur, termasuk rudal balistik, pesawat pengebom, dan kapal selam.
Baca Juga: Kapolres Situbondo Warning Debt Collector: Rampas Motor di Jalan, Resmob Bertindak
Sebelum masa berlakunya berakhir, Rusia sempat mengajukan usulan perpanjangan perjanjian selama satu tahun pada September tahun lalu. Trump kala itu menyatakan tawaran tersebut terdengar menarik, namun hingga kini Kremlin mengklaim tidak pernah menerima respons resmi dari Washington.
Pemerintahan Trump juga berulang kali menekankan pentingnya melibatkan China dalam perjanjian pengendalian senjata nuklir yang baru. Namun, Beijing menolak keras ajakan tersebut dengan alasan kapasitas nuklir China jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat dan Rusia.
Pemerintah China menegaskan tidak akan terlibat dalam pembicaraan pelucutan senjata nuklir pada tahap saat ini.
Editor : Ali Sodiqin