Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Prancis dan Kanada Perkuat Diplomasi di Greenland Tengah Ancaman Trump

Bayu Shaputra • Sabtu, 7 Februari 2026 | 11:15 WIB
Desa Ilulissat di Greenland.
Desa Ilulissat di Greenland.

RADARSITUBONDO.ID - Suhu dingin Arktik tak menghalangi meningkatnya tensi politik global. Kanada dan Prancis resmi membuka kantor konsulat jenderal di Nuuk, ibu kota Greenland, Jumat (6/2/2026).

Langkah ini dinilai sebagai sinyal dukungan terbuka terhadap wilayah otonomi di bawah Denmark tersebut, sekaligus respons atas keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berambisi menguasai pulau strategis di kawasan Arktik itu. 

Peresmian konsulat Kanada dihadiri langsung Menteri Luar Negeri Anita Anand dan Gubernur Jenderal Mary Simon. Kehadiran kapal penjaga pantai Kanada, Jean Goodwill, turut menegaskan keseriusan Ottawa dalam memperkuat kehadirannya di Greenland.

 Baca Juga: Pemulihan Pascabanjir Situbondo Butuh Rp 160 Miliar, Bupati: Risiko Sosial-Ekonomi Mengintai

Di saat bersamaan, Prancis melantik Jean-Noël Poirier sebagai konsul jenderal pertamanya di Nuuk. Dengan langkah ini, Prancis menjadi negara Uni Eropa pertama yang membuka perwakilan diplomatik resmi di Greenland.

Sebelum Kanada dan Prancis masuk, hanya Amerika Serikat dan Islandia yang memiliki kantor diplomatik di wilayah tersebut. Pemerintah Kanada sejatinya telah mengumumkan rencana pembukaan konsulat sejak awal 2024 sebagai bagian dari strategi kebijakan luar negeri Arktik. Namun, agenda peresmian yang dijadwalkan pada November 2025 terpaksa mundur akibat kondisi cuaca ekstrem.

Analis keamanan dari lembaga think tank Europa, Christine Nissen, menilai pembukaan konsulat ini memiliki arti strategis. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan isu Greenland sebagai kepentingan Eropa secara luas, bukan semata urusan Denmark. Dampaknya dinilai akan berpengaruh terhadap stabilitas kawasan hingga kepentingan global.

 Baca Juga: Kakek 67 Tahun Diduga Bakar Rumah Mantan Istri, Berpura-pura Panik Lalu Kabur

Ketegangan di Greenland mencuat setelah Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih wilayah tersebut. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer dengan dalih kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat, terutama untuk membendung pengaruh Rusia dan China di kawasan Arktik.

Pernyataan itu langsung mendapat penolakan tegas dari Denmark dan Greenland yang menegaskan kedaulatan mereka sebagai harga mati.

Gubernur Jenderal Mary Simon menyoroti kuatnya ikatan budaya antara komunitas Inuit di Kanada dan Greenland. Ia menegaskan posisi Kanada yang mendukung hak rakyat Greenland untuk menentukan masa depan mereka sendiri tanpa tekanan eksternal.

Dengan dinamika tersebut, Greenland kini tak lagi dipandang sebagai wilayah terpencil berselimut es. Pulau terbesar di dunia itu telah menjelma menjadi titik strategis yang diperebutkan kekuatan-kekuatan besar dalam persaingan geopolitik di Arktik.

Editor : Ali Sodiqin
#Greenland #Prancis dan Kanada #Denmark