RADARSITUBONDO.ID - Rilis jutaan dokumen terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat memantik polemik internasional. Alih-alih berfokus pada bukti keterlibatan sejumlah elite Barat, sebagian media justru mengaitkan Epstein dengan Rusia dan menudingnya sebagai agen Moskow.
Menanggapi narasi tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyampaikan kritik tajam. Ia menyebut tudingan itu tidak masuk akal, mengingat dokumen-dokumen yang dirilis justru memuat bukti luas mengenai kejahatan para tokoh Barat.
Menurut Zakharova, upaya mengaitkan Epstein dengan Rusia mencerminkan keinginan untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal yang lebih substansial.
Dokumen yang dipublikasikan pada akhir Januari 2026 itu mencakup lebih dari tiga juta halaman arsip, 180 ribu gambar, serta sekitar dua ribu video. Dari keseluruhan arsip, lebih dari 9.000 dokumen menyinggung Rusia dan 1.056 dokumen menyebut Presiden Vladimir Putin. Namun, sebagian besar rujukan tersebut berasal dari kliping berita dan ringkasan informasi yang diterima Epstein, bukan hasil komunikasi langsung.
Arsip juga mencatat sejumlah upaya Epstein untuk menjalin kontak dengan Putin. Salah satunya melalui mantan Perdana Menteri Norwegia Thorbjørn Jagland pada Juli 2015, dengan dalih pembahasan ekonomi.
Permintaan serupa kembali muncul pada 2016 dan 2017, meski tidak ada bukti pertemuan itu pernah terealisasi. Hingga Juni 2018, Epstein masih menyatakan keinginannya bertemu Putin.
Selain itu, Epstein diketahui memiliki relasi dengan beberapa tokoh Rusia, di antaranya Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Sergey Belyakov, pengusaha Oleg Deripaska, mantan Dubes Rusia untuk PBB Vitaly Churkin, serta aktivis pro-Kremlin Maria Drokova.
Dokumen juga menyingkap kebiasaan Epstein merekrut dan memperkenalkan perempuan muda asal Rusia kepada lingkaran pertemanannya.
Meski demikian, sejumlah laporan justru menunjukkan dugaan keterkaitan Epstein dengan intelijen Israel, Mossad, lebih kuat dibanding tudingan hubungan dengan Rusia. Klaim yang dibangun hanya dari banyaknya penyebutan nama Putin dinilai rapuh karena tidak disertai bukti komunikasi atau kerja sama konkret.
Tokoh Rusia Kirill Dmitriev menilai tudingan terhadap Moskow sebagai cerminan kepanikan elite Barat yang tengah terpojok. Ia menyebut skandal Epstein sebagai gambaran retaknya permainan kekuasaan global, di mana pencarian kambing hitam digunakan untuk menutup kejahatan internal.
Kremlin pun membantah tegas tuduhan tersebut. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa teori Epstein sebagai agen intelijen Rusia tidak layak dianggap serius. Ia meminta media tidak menghabiskan energi pada spekulasi yang tidak berdasar.
Bagi Moskow, terbukanya dokumen kasus Epstein justru memperlihatkan bagaimana elite Barat lebih sibuk membentuk narasi pengalihan isu ketimbang bertanggung jawab atas kejahatan sistemik yang mencoreng tatanan global.
Editor : Ali Sodiqin