Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Iran Tolak Nol Pengayaan: Siap Hadapi Skenario Terburuk

Bayu Shaputra • Senin, 9 Februari 2026 | 17:00 WIB

Iran memperingati Amerika Serikat mengenai kegiatan militer di kawasan Karibia.
Iran memperingati Amerika Serikat mengenai kegiatan militer di kawasan Karibia.

RADARSITUBONDO.ID - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah melepaskan hak untuk melakukan pengayaan uranium, sekalipun Amerika Serikat mengancam dengan perang.

Sikap keras itu disampaikan Araghchi pada Minggu (8/2/2026), menyusul berakhirnya putaran pertama perundingan tidak langsung antara Iran dan AS yang digelar di Muscat, Oman, Jumat (6/2/2026).

Menurut Araghchi, pengayaan uranium merupakan hak sah Iran yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia menolak keras segala bentuk tekanan dan menegaskan tidak ada negara mana pun yang berhak mengatur kebijakan Teheran.

Pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, disebutnya tidak sedikit pun menggoyahkan Iran.

 Baca Juga: Napi Rutan Situbondo Diajak Karaoke Bareng, Ini Alasan Petugas Lakukan Program Hiburan di Balik Jeruji

Araghchi juga mempertanyakan itikad Washington dalam proses diplomasi. Pasalnya, di tengah jalannya perundingan, AS justru kembali mengumumkan sanksi baru.

Presiden AS Donald Trump bahkan meneken perintah eksekutif yang memberlakukan tarif bagi negara-negara yang masih menjalin kerja sama ekonomi dengan Iran, serta menambah sanksi untuk menekan ekspor minyak Teheran.

Dalam pernyataannya, Araghchi menyampaikan pandangan kontroversial dengan menyebut bahwa kekuatan Iran (termasuk kemampuan nuklirnya) adalah simbol keberanian untuk menolak dominasi negara besar. Meski demikian, pemerintah Iran tetap menegaskan tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.

Diketahui, sebelum pecahnya perang Israel-Iran pada Juni 2025, Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat 60 persen, jauh melampaui batas yang disepakati dalam Perjanjian Nuklir 2015 atau JCPOA.

 Baca Juga: Diterjang Puting Beliung, 8 Rumah Warga Selobanteng Rusak, Atap dan Genteng Berjatuhan

Iran juga memastikan program pengembangan rudal balistik tidak akan masuk dalam meja perundingan. Araghchi menyatakan Teheran terbuka untuk membangun kepercayaan demi tercapainya kesepakatan yang adil, namun opsi pengayaan nol sama sekali tidak akan dibahas. Ia menambahkan, serangan udara AS sebelumnya pun gagal melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.

Soal keamanan kawasan, Araghchi menekankan bahwa Iran tidak berniat menyerang negara-negara tetangga. Target utama Iran, jika terjadi konflik, adalah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Meski mengakui keterbatasan untuk menyerang langsung wilayah AS, Iran menegaskan siap melakukan pembalasan terhadap aset militer Amerika di kawasan.

Ketegangan Iran-AS masih belum mereda. Trump menyebut pembicaraan berjalan “sangat baik”, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilainya sebagai sebuah kemajuan.

Namun hingga kini, jadwal dan lokasi perundingan lanjutan belum ditentukan, sementara bayang-bayang konflik bersenjata masih mengiringi proses diplomasi kedua negara.

Editor : Ali Sodiqin
#Menteri Luar Negeri Iran #Abbas Araghchi #Pengayaan Uranium