RADARSITUBONDO.ID - Jauh dari kampung halaman, ribuan pekerja migran meregang nyawa di lokasi proyek konstruksi Arab Saudi. Di balik megahnya pembangunan infrastruktur, keluarga yang ditinggalkan justru harus berjuang panjang demi mendapatkan kompensasi yang dijanjikan.
Salah satu korban adalah Muhammad Arshad, pekerja asal Pakistan. Ia meninggal dunia setelah terjatuh dari ketinggian saat mengerjakan proyek Stadion Aramco di Al Khobar pada Maret 2025. Arshad meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih berusia di bawah delapan tahun.
Kasus Arshad hanyalah satu dari ratusan kematian pekerja migran, terutama di proyek-proyek besar yang berkaitan dengan persiapan Piala Dunia 2034.
Baca Juga: Kenapa iPhone 17E Layak Ditunggu? Ini Fitur Terbarunya
Data Human Rights Watch mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2024, sebanyak 884 pekerja migran asal Bangladesh meninggal dunia di Arab Saudi. Ironisnya, sekitar 80 persen kematian tersebut dikategorikan sebagai “penyebab alami” tanpa investigasi komprehensif. Akibatnya, keluarga korban kerap tidak memenuhi persyaratan untuk menerima kompensasi.
Peristiwa tragis juga dialami pekerja Bangladesh lainnya yang tewas akibat tersengat listrik. Pihak perusahaan disebut menahan jenazah dan menjadikan persetujuan pemakaman di Arab Saudi sebagai syarat pencairan santunan.
Keluarga yang menolak harus berutang lebih dari 4.000 dolar AS demi memulangkan jenazah ke tanah air. Namun kompensasi yang diterima tidak mampu menutup utang tersebut.
Baca Juga: Perbandingan iPhone 17E vs iPhone 16E, Apa Bedanya?
Tak sedikit keluarga korban yang harus menunggu bertahun-tahun. Seorang janda mengaku baru dapat mengakses tunjangan setelah sepuluh tahun penantian. Bahkan ada keluarga yang menunggu hingga hampir 15 tahun sebelum menerima pembayaran dari pemerintah Arab Saudi.
Secara regulasi, undang-undang ketenagakerjaan Arab Saudi mewajibkan perusahaan memberikan kompensasi atas kematian di tempat kerja. Namun lemahnya transparansi investigasi dan dugaan kesalahan klasifikasi penyebab kematian membuat banyak keluarga kehilangan hak mereka.
Kehilangan tulang punggung keluarga memaksa sebagian orang mengambil langkah drastis. Seorang janda asal Bangladesh mengaku terpaksa menyuruh anaknya yang berusia 14 tahun bekerja demi memenuhi kebutuhan harian.
Baca Juga: Harapan Potong Rambut Frank Ilett Kandas, MU Gagal Raih Kemenangan Kelima
Jumlah pekerja migran di Arab Saudi sendiri mencapai 13,2 juta orang pada 2024, meningkat sekitar 40 persen dibandingkan 2019.
Dengan rencana pembangunan 11 stadion baru dan 73 fasilitas latihan untuk Piala Dunia 2034, organisasi hak asasi manusia memperingatkan risiko kecelakaan dan kematian akan semakin besar tanpa pengawasan ketat.
FIFA telah menyatakan komitmen membentuk sistem kesejahteraan pekerja dengan standar wajib di Arab Saudi. Namun hingga kini, belum ada rincian langkah konkret terkait pencegahan, investigasi independen, maupun mekanisme kompensasi bagi keluarga korban.
Sementara proyek terus berjalan, keluarga para pekerja migran masih menanti kepastian hak yang tak kunjung datang.
Editor : Ali Sodiqin