Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Presiden Iran Minta Maaf Atas Tragedi Demonstrasi yang Menewaskan Banyak Korban

Bayu Shaputra • Jumat, 13 Februari 2026 | 13:45 WIB

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.

RADARSITUBONDO.ID - Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik setelah gelombang demonstrasi berdarah mengguncang negaranya sepanjang Januari 2026.

Permintaan maaf itu disampaikan dalam pidato peringatan 47 tahun kemenangan Revolusi Islam, Rabu waktu setempat.

Dalam pidatonya, Pezeshkian mengakui terdapat sejumlah kelemahan dalam tata kelola pemerintahan yang memicu kekecewaan masyarakat. Ia menegaskan pemerintah berkomitmen membenahi berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan kondisi ekonomi rakyat.

Menurut Pezeshkian, aksi unjuk rasa merupakan bentuk aspirasi yang patut didengar. Namun, ia juga menyayangkan terjadinya bentrokan dan kekerasan selama demonstrasi berlangsung.

 Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Kalah Tipis 2-3 dari China di Injury Time

Gelombang protes bermula pada akhir Desember 2025, dipicu krisis ekonomi yang semakin parah. Nilai tukar rial terpuruk hingga menyentuh 1,42 juta per dolar Amerika Serikat—level terendah sepanjang sejarah.

Di saat yang sama, inflasi menembus 52 persen sehingga harga kebutuhan pokok melonjak dan daya beli masyarakat tergerus tajam.

Dalam waktu singkat, demonstrasi meluas ke lebih dari 100 titik di 22 provinsi. Pedagang serta pelaku usaha turun ke jalan memprotes kebijakan ekonomi yang dianggap gagal mengendalikan krisis. Seiring waktu, tuntutan yang awalnya berfokus pada stabilitas ekonomi berkembang menjadi seruan perubahan sistem pemerintahan.

 Baca Juga: Bojan Hodak Akui Start Buruk Jadi Biang Kekalahan Persib atas Ratchaburi

Pemerintah melalui Martyrs Foundation pada 21 Januari 2026 merilis data korban jiwa. Sedikitnya 3.117 orang dilaporkan meninggal dunia, terdiri atas 2.427 warga sipil dan aparat keamanan. Selain itu, ribuan orang disebut telah diamankan selama operasi penertiban.

Di tengah tekanan publik, Gubernur Bank Sentral Mohammad Reza Farzin menyatakan mundur dari jabatannya. Pemerintah kemudian menunjuk Abdolnasser Hemmati sebagai pengganti. Presiden Pezeshkian juga telah bertemu sejumlah pelaku usaha dan berjanji mengerahkan seluruh sumber daya negara untuk memulihkan perekonomian.

Krisis kali ini disebut-sebut sebagai gelombang protes terbesar sejak demonstrasi 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini. Pengamat menilai skala serta penyebaran aksi yang menjangkau kota besar hingga kota kecil membuat peristiwa ini menjadi salah satu momen paling krusial dalam sejarah politik modern Iran.

Editor : Ali Sodiqin
#presiden iran #Masoud Pezeshkian