Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Foto Terbaru Buka Tabir Kekerasan Rezim Iran pada Aksi Protes Anti-Pemerintah

Bayu Shaputra • Minggu, 15 Februari 2026 | 22:30 WIB
Sejumlah jenazah demonstran yang dibunuh oleh pasukan keamanan pemerintah pada tanggal 8, 9, dan 10 Januari tergeletak di kamar mayat di Teheran.
Sejumlah jenazah demonstran yang dibunuh oleh pasukan keamanan pemerintah pada tanggal 8, 9, dan 10 Januari tergeletak di kamar mayat di Teheran.

RADARSITUBONDO.ID - Gelombang protes besar yang melanda Iran sejak 28 Desember 2025 berubah menjadi krisis nasional dengan skala kekerasan yang disebut-sebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Aksi yang awalnya dipicu krisis ekonomi kini berkembang menjadi gerakan politik terbuka yang menantang kepemimpinan tertinggi negara.

Berbagai foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan tindakan keras aparat keamanan terhadap massa demonstran. Di kota Malekshahi, rekaman menunjukkan aparat menembakkan senjata api ke arah warga sipil yang berkumpul di depan pangkalan militer.

Sejumlah korban dilaporkan dilarikan ke Rumah Sakit Imam Khomeini di Ilam, yang kemudian disebut turut didatangi pasukan keamanan untuk melakukan penangkapan.

 Baca Juga: Trump Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah untuk Tingkatkan Tekanan pada Iran

Organisasi hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International, mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Aksi demonstrasi juga meluas ke sejumlah kota besar seperti Tehran, Kermanshah, dan Abdanan. Ribuan warga turun ke jalan meski aparat menurunkan helikopter dan menembakkan gas air mata. Di Tehran, sejumlah ruas jalan dilaporkan diblokir massa, sementara pedagang di Grand Bazaar memilih menutup toko sebagai bentuk solidaritas.

Situasi semakin mencekam setelah beredar foto ratusan jenazah yang dibungkus plastik hitam dan diletakkan di ruang terbuka. Keluarga korban disebut harus mengidentifikasi kerabat mereka di antara deretan jenazah tersebut. Dalam sebuah rekaman yang viral, terdengar suara seorang ayah memanggil nama anaknya dengan nada putus asa.

 Baca Juga: Polisi Uraikan Cara Penghentian Perkara Hukum Merespons Roy Suryo Cs

Lembaga pemantau independen Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan 6.964 kematian terkonfirmasi hingga 5 Februari 2026, dengan mayoritas korban merupakan demonstran.

Sementara itu, estimasi internal yang dikaitkan dengan Kementerian Kesehatan Iran menyebut angka korban tewas bisa mencapai 30.000 orang hanya dalam dua hari pertama penindasan pada 8–9 Januari 2026.

Krisis ini bermula dari anjloknya nilai tukar rial yang kehilangan sekitar 56 persen dalam enam bulan terakhir. Kondisi ekonomi yang memburuk memicu kemarahan publik, yang kemudian berkembang menjadi tuntutan penggulingan rezim.

Slogan “Mati untuk Diktator” yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menggema di berbagai kota, menandai tantangan paling serius terhadap Republik Islam sejak Revolusi 1979.

Di tengah tekanan publik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 11 Februari 2026 menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat. Ia mengakui adanya kegagalan pemerintah dalam menangani krisis ekonomi serta dalam menjamin hak konstitusional warga untuk menyampaikan aspirasi secara damai.

Perkembangan situasi di Iran kini menjadi sorotan dunia internasional, dengan berbagai pihak mendesak investigasi independen atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama gelombang protes berlangsung.

Editor : Ali Sodiqin
#Rezim Iran #Demo anti pemerintah