RADARSITUBONDO.ID - Otoritas keamanan Israel mengumumkan pengerahan personel dalam jumlah besar di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa menjelang datangnya bulan suci Ramadan pekan ini. Penempatan aparat dilakukan selama 24 jam penuh di kawasan yang juga dikenal sebagai Bukit Bait Suci oleh umat Yahudi.
Perwira senior kepolisian Yerusalem, Arad Braverman, menyatakan bahwa pengamanan diperketat di seluruh area kompleks hingga wilayah sekitarnya.
Ia menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban dan mempertahankan pengaturan lama (status quo) di lokasi suci tersebut.
Baca Juga: Bukan Sekadar Uang, Ini Arti Angpao dalam Tradisi Imlek
Namun kebijakan ini menuai kecaman dari pihak Palestina. Mereka menuding Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap jemaah Muslim yang hendak beribadah selama Ramadan. Otoritas Waqf Islam menyebutkan sedikitnya 33 pegawainya dilarang memasuki kompleks pada sepekan sebelum Ramadan.
Tak hanya itu, ratusan warga Palestina di Yerusalem Timur—terutama pria muda—disebut terkena larangan masuk dengan masa pembatasan hingga enam bulan.
Kebijakan ini berdampak pada tradisi tahunan yang biasanya memungkinkan ratusan ribu warga Palestina dari Tepi Barat beribadah di masjid yang menjadi situs tersuci ketiga dalam Islam tersebut.
Baca Juga: Empat Besar Liga Inggris Jadi Penentu Masa Depan Carrick di Old Trafford
Dalam aturan terbaru, hanya pria berusia 55 tahun ke atas, perempuan di atas 50 tahun, serta anak-anak di bawah 12 tahun yang diperbolehkan masuk. Itu pun harus melalui izin khusus dan pemeriksaan keamanan ketat di sejumlah pos yang telah ditentukan.
Kompleks Al-Aqsa yang berada di Yerusalem Timur—wilayah yang direbut Israel dalam perang 1967 dan kemudian dianeksasi—selama ini menjadi simbol penting bagi identitas Palestina dan kerap memicu ketegangan politik maupun keamanan.
Berdasarkan pengaturan yang telah lama berlaku, umat Yahudi diizinkan mengunjungi lokasi yang mereka yakini sebagai situs berdirinya kuil kedua mereka yang dihancurkan Romawi pada tahun 70 Masehi, tetapi tidak diperbolehkan melakukan ibadah di area tersebut.
Baca Juga: Viral! Rekaman CCTV Tangkap Detik-detik Tembok Roboh Hantam SMPN 182 Jaksel
Braverman menegaskan pemerintah Israel tetap berkomitmen menjaga status quo tanpa perubahan. Meski demikian, kekhawatiran di kalangan Palestina meningkat seiring aktivitas kelompok ultranasionalis Yahudi yang menuntut hak berdoa di kawasan itu.
Ketegangan semakin memuncak setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, diketahui pernah berdoa di kompleks tersebut pada 2024 dan 2025. Tindakan itu dinilai memperkeruh situasi yang sudah sensitif.
Para pemimpin Palestina menilai pembatasan terbaru sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beribadah sekaligus upaya sistematis mengurangi kehadiran penjaga dan jemaah Muslim di Al-Aqsa. Mereka mendesak komunitas internasional turun tangan untuk menjamin perlindungan terhadap situs suci tersebut tanpa diskriminasi.
Editor : Ali Sodiqin