RADARSITUBONDO.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap langkah militer Israel yang menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Dukungan itu diberikan setelah tenggat waktu 60 hari yang ia tetapkan kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan nuklir berakhir tanpa hasil.
Trump sebelumnya memperingatkan Iran agar segera menyepakati perjanjian baru terkait program nuklirnya. Namun hingga batas waktu terlampaui, tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai titik strategis di Iran. Target utama adalah fasilitas yang diduga menjadi pusat pengembangan senjata nuklir. Selain merusak instalasi penting, serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer Iran.
Baca Juga: Apakah Melihat Video 18+ Saat Puasa Membatalkan Ibadah? Simak Hukumnya
Penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yakni Ali Shamkhani, turut mengalami luka-luka. Shamkhani diketahui berperan dalam proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Dalam wawancara bersama CNN, Trump menyebut Amerika Serikat “tentu saja” mendukung langkah Israel. Ia bahkan menyatakan serangan tersebut berjalan “sangat sukses.” Trump juga kembali memperingatkan Iran agar segera menyepakati perjanjian baru sebelum situasi semakin memburuk.
Baca Juga: Barcelona Tumbang Dramatis di Kandang Girona, Posisi Puncak Melayang
Menurut Trump, tenggat 60 hari yang ia tetapkan berakhir tepat pada hari serangan terjadi. Ia menegaskan bahwa hari itu merupakan hari ke-61 sejak ultimatum diberikan.
Perundingan nuklir antara AS dan Iran sendiri dimulai pada 12 April 2025 di Oman. Delegasi AS dipimpin oleh Utusan Khusus Steve Witkoff, sementara pihak Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Meski pada tahap awal pembicaraan berlangsung konstruktif, proses diplomasi akhirnya menemui jalan buntu.
Putaran keenam perundingan yang sedianya digelar pada 15 Juni di Oman resmi ditangguhkan tanpa batas waktu menyusul eskalasi serangan Israel.
Sejak awal, pemerintah Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memang menunjukkan sikap skeptis terhadap jalur diplomasi.
Netanyahu bahkan sempat mengusulkan operasi militer gabungan AS-Israel pada Mei 2025, namun kala itu Trump menolak dan memilih memberi kesempatan pada jalur negosiasi.
Ketika diplomasi tidak membuahkan hasil, Washington akhirnya memberikan restu terhadap langkah sepihak Israel. Situasi ini pun menandai babak baru ketegangan di kawasan Timur Tengah dengan potensi eskalasi yang lebih luas.
Editor : Ali Sodiqin