RADARSITUBONDO.ID - Kekhawatiran geopolitik kembali mengguncang sektor keuangan global. Para petinggi bank terbesar di Inggris menggelar pertemuan perdana pada Kamis (13/2/2026) guna merancang sistem pembayaran nasional yang diproyeksikan menjadi alternatif bagi dua raksasa kartu asal Amerika Serikat, yakni Visa dan Mastercard.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh CEO Barclays UK, Vim Maru. Sejumlah institusi keuangan papan atas turut hadir, di antaranya NatWest, Lloyds Banking Group, Santander UK, Nationwide Building Society, serta jaringan ATM Link.
Inisiatif ini dikoordinasikan oleh UK Finance dengan dukungan pemerintah Inggris dan Bank of England. Proyek tersebut diberi nama “DeliveryCo” dan ditargetkan dapat beroperasi penuh sebelum 2030.
Baca Juga: Bukan Sekadar Takjil, Kolak Pisang Ternyata Media Dakwah Para Wali
Langkah ini dipicu oleh tingginya ketergantungan sistem pembayaran Inggris terhadap dua jaringan kartu global tersebut.
Berdasarkan laporan Payment Systems Regulator 2025, sekitar 95 persen transaksi kartu di Inggris diproses melalui jaringan Visa dan Mastercard. Kondisi itu dinilai menjadi titik lemah strategis apabila terjadi gangguan operasional atau tekanan geopolitik.
Seorang eksekutif perbankan bahkan menyebut bahwa jika kedua jaringan tersebut berhenti beroperasi, Inggris bisa “kembali ke era 1950-an”, ketika uang tunai mendominasi transaksi harian.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Saat sanksi Barat dijatuhkan kepada Rusia, Visa dan Mastercard menghentikan operasinya di negara tersebut. Akibatnya, jutaan warga kesulitan mengakses rekening dan melakukan transaksi, mengingat sebelumnya sekitar 60 persen pembayaran di Rusia bergantung pada kedua jaringan itu.
Baca Juga: Khilaf Menonton Konten Dewasa Saat Puasa? Ini Panduan Taubat yang Benar
Dalam skema yang dirancang, Bank of England akan menyiapkan cetak biru infrastruktur teknis sistem pembayaran baru tersebut. Dokumen perencanaan itu dijadwalkan diserahkan kepada DeliveryCo pada tahun depan sebagai dasar pembangunan sistem nasional.
Menariknya, pendekatan Inggris terbilang lebih kolaboratif dibandingkan kawasan lain. Di Uni Eropa, sejumlah politisi seperti Aurore Lalucq secara terbuka mendorong lahirnya alternatif Eropa yang lebih independen dari jaringan pembayaran Amerika Serikat.
Sebaliknya, Visa dan Mastercard justru dilibatkan dalam kelompok pendanaan proyek Inggris dan menyatakan dukungan terhadap inovasi serta persaingan yang sehat di sektor pembayaran.
Baca Juga: Pandangan 4 Mazhab tentang Menonton Konten Dewasa Ketika Berpuasa
Meski wacana ini telah dibahas beberapa tahun terakhir, percepatan realisasi disebut tak lepas dari dinamika politik global. Ancaman tarif 10 persen yang sempat dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Inggris dan sekutu NATO pada Januari lalu, meski akhirnya dicabut, menjadi alarm tambahan bagi ketahanan ekonomi Inggris.
Pejabat pemerintah menegaskan, proyek DeliveryCo bukanlah langkah konfrontatif, melainkan strategi memperkuat kemandirian dan resiliensi sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
Editor : Ali Sodiqin