RADARSITUBONDO.ID - Selat Hormuz yang membentang di antara wilayah Iran dan Oman dikenal sebagai jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Lebarnya yang hanya sekitar 39 kilometer menjadikannya koridor sempit namun krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi akses utama menuju Samudra Hindia.
Setiap hari, lebih dari 80 kapal tanker minyak serta kapal kontainer melintasi perairan ini. Volume angkutan energinya mencapai 20–21 persen pasokan minyak global atau sekitar 13 juta barel per hari.
Nilai perdagangan yang melewati jalur ini ditaksir mencapai 1,2 hingga 1,4 triliun dolar AS per tahun, menjadikan Selat Hormuz sebagai titik sempit (chokepoint) energi terpenting di planet ini.
Baca Juga: Bolehkah Pakai Lip Balm Saat Puasa? Ini Penjelasannya
Posisi geografis Iran yang berbatasan langsung dengan selat tersebut memberi keuntungan strategis signifikan. Melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Teheran mengklaim memiliki kendali pemantauan penuh selama 24 jam, baik di permukaan laut, udara, maupun bawah laut.
Pulau-pulau milik Iran di kawasan Teluk Persia juga disebut berfungsi sebagai garis pertahanan alami yang memperkuat posisi militernya.
Ketergantungan dunia terhadap jalur ini membuatnya memiliki daya tekan geopolitik yang besar. Data International Energy Agency menunjukkan sekitar seperempat pengiriman minyak dunia via laut dan seperlima perdagangan gas alam cair global melewati Selat Hormuz.
Setiap isu penutupan atau gangguan keamanan di kawasan ini hampir selalu memicu gejolak harga energi dan kekhawatiran di pasar internasional.
Baca Juga: Polres Metro Depok Siapkan Pesantren Kilat bagi Remaja Tawuran Selama Ramadan
Dampaknya terasa langsung bagi negara-negara industri besar. China, misalnya, mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, sehingga stabilitas di Selat Hormuz menjadi kepentingan strategis Beijing.
Negara-negara Asia dan Eropa lainnya juga memiliki ketergantungan tinggi terhadap kelancaran distribusi energi melalui jalur tersebut.
Dalam lanskap keamanan maritim modern, Selat Hormuz tak sekadar menjadi rute perdagangan. Iran diketahui menempatkan kapal selam serang kelas Fateh dan kapal selam mini kelas Ghadir di kawasan itu.
Strategi ini disebut sebagai bagian dari doktrin perang asimetris untuk menyeimbangkan dominasi armada laut Amerika Serikat. Kondisi perairan Teluk Persia yang relatif dangkal, memiliki tingkat kebisingan akustik tinggi, serta kompleksitas geografisnya dinilai memberi keuntungan taktis bagi strategi pertahanan Iran yang mengandalkan kecepatan dan manuver di ruang sempit.
Dengan kombinasi nilai ekonomi raksasa, posisi geografis yang menentukan, serta tensi geopolitik yang dinamis, Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta keamanan global.
Editor : Ali Sodiqin