RADARSITUBONDO.ID - Jumlah korban tewas akibat konflik Gaza disebut jauh melampaui angka resmi yang selama ini dirilis otoritas setempat. Temuan itu terungkap dalam studi komprehensif yang dipublikasikan jurnal medis internasional The Lancet Global Health.
Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 75.00 orang meninggal dunia akibat kekerasan sejak 7 Oktober 2023 hingga awal Januari 2025.
Angka ini disebut 34,7 persen lebih tinggi dibandingkan catatan resmi Kementerian Kesehatan Gaza yang melaporkan 49.090 kematian traumatis dalam periode yang sama.
Studi ini menjadi yang pertama menggunakan metode survei rumah tangga berbasis populasi untuk menghitung korban, menggantikan pendekatan sebelumnya yang bertumpu pada pencatatan kematian individual.
Baca Juga: Siap Tempur di SUGBK! Inilah Deretan Lawan Timnas Garuda pada FIFA Series 2026
Penelitian dipimpin Profesor Michael Spagat dari Royal Holloway University of London. Ia menegaskan, hasil riset justru menunjukkan bahwa data resmi tidak dibesar-besarkan.
“Riset kami menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan tidak melebih-lebihkan angka korban. Justru sebaliknya, angka resmi kemungkinan masih meremehkan situasi yang sebenarnya,” ujarnya.
Survei dilakukan terhadap 2.000 rumah tangga yang mewakili 9.729 individu pada periode 30 Desember 2024 hingga 5 Januari 2025. Peneliti juga melakukan penyesuaian terhadap data dengan mempertimbangkan faktor pengungsian serta wilayah yang sulit dijangkau akibat konflik.
Baca Juga: Tak Sengaja Minum Saat Puasa Ramadan, Apakah Batal?
Dari sisi demografi, komposisi korban dalam studi tersebut sejalan dengan laporan resmi. Perempuan, anak-anak, dan lansia tercatat menyumbang 56,2 persen dari total kematian.
Selain korban langsung akibat kekerasan, penelitian ini juga memperkirakan sekitar 16.300 kematian tidak langsung selama 15 bulan pertama perang.
Angka itu termasuk sekitar 8.500 kematian tambahan dibandingkan tingkat kematian sebelum perang. Kematian tidak langsung dipicu oleh penyakit yang sudah ada sebelumnya serta runtuhnya layanan kesehatan dan fasilitas esensial.
Baca Juga: Bolehkah Pakai Lip Balm Saat Puasa? Ini Penjelasannya
Spagat menilai keberadaan sistem bantuan kemanusiaan, termasuk tenaga medis dan dukungan lembaga internasional seperti PBB, kemungkinan telah mencegah angka kematian yang lebih besar.
Ia mengingatkan, jika infrastruktur bantuan tersebut melemah atau dibongkar, situasi kemanusiaan di Gaza berpotensi memburuk secara signifikan.
Temuan ini memperkuat gambaran tentang besarnya dampak konflik terhadap warga sipil serta menjadi catatan penting dalam memahami krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
Editor : Ali Sodiqin