Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kilang Minyak Terbesar Arab Saudi Berhenti Operasi Usai Terdampak Perang, Petinggi Iran Membisu untuk AS

Agung Sedana • Senin, 2 Maret 2026 | 17:56 WIB

Seorang demonstran memegang poster Ali Khamenei saat ribuan orang berkumpul di Lapangan Enghelab untuk demonstrasi.
Seorang demonstran memegang poster Ali Khamenei saat ribuan orang berkumpul di Lapangan Enghelab untuk demonstrasi.

RADAR SITUBONDO - Konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel memasuki hari ketiga dengan situasi yang semakin tegang. Sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Dubai dan Abu Dhabi, memicu kekhawatiran meluasnya dampak konflik ke negara-negara Teluk.

Di sisi lain, pejabat keamanan tinggi Iran menyatakan bahwa opsi negosiasi dengan Washington tidak lagi menjadi prioritas. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan militer yang terus berlangsung dari kedua belah pihak.

Raksasa energi Saudi Aramco mengonfirmasi salah satu fasilitas kilangnya terdampak insiden keamanan yang menyebabkan kebakaran kecil.

Perusahaan menyatakan api berhasil dipadamkan dan situasi telah terkendali, meski pengawasan ketat tetap dilakukan.

Prospek eskalasi lebih lanjut langsung memengaruhi pasar global. Harga minyak dunia melonjak karena investor mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang menjadi pusat produksi energi dunia.

Sementara itu, emas sebagai aset lindung nilai ikut menguat.

Di sisi lain, pasar berjangka Amerika Serikat dan bursa saham Asia tercatat melemah, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko geopolitik yang berkepanjangan.

Korban Jiwa dan Pernyataan Pemimpin

Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas sejak pecahnya konflik. Sementara itu, otoritas Amerika Serikat mengonfirmasi tiga personel militer tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.

Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa konflik dapat berlangsung hingga beberapa minggu dan tidak menutup kemungkinan adanya tambahan korban jiwa dari pihak Amerika.

Ia juga menyebut bahwa terdapat sinyal dari kepemimpinan baru Iran untuk membuka kembali ruang dialog.

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh pejabat keamanan Iran, Ali Larijani, yang menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki rencana untuk kembali ke meja perundingan dengan Washington dalam waktu dekat.

Tekanan Pasar dan Ancaman Selat Hormuz

Amrita Sen, pendiri lembaga riset energi Energy Aspects, dalam wawancara dengan CNBC Europe mengatakan harga minyak berpotensi bertahan di kisaran 80 dolar AS per barel setelah lonjakan awal.

Menurut Sen, selama tidak ada kerusakan nyata terhadap infrastruktur energi utama, pasar cenderung stabil pada level tersebut. Namun ia menyoroti satu risiko utama di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran strategis itu dilalui sekitar 15 juta barel minyak per hari serta sekitar 80 juta ton LNG dalam setahun terakhir. Meski kecil kemungkinan Iran secara resmi menutup jalur tersebut, serangan sporadis terhadap kapal tanker dinilai cukup untuk memicu kekhawatiran pasar dan menunda pengiriman.

Gangguan logistik semacam itu, meskipun terbatas, dapat membuat pelaku pasar berhati-hati dan berdampak pada arus pasokan global.

Situasi semakin kompleks karena Iran sedang berada dalam masa transisi kepemimpinan. Dewan sementara yang disebut melibatkan tokoh ulama senior Ayatollah Alireza Arafi serta Presiden Masoud Pezeshkian disebut mengambil peran dalam pengambilan keputusan strategis.

Kombinasi faktor militer, politik, dan energi membuat dinamika konflik ini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga global. Pasar, pemerintah, dan pelaku industri energi kini memantau ketat setiap perkembangan berikutnya.

Editor : Agung Sedana
#Aramco #perang iran