Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Iran Janjikan Perang Dahsyat Melawan Zionis AS, Sebut Jadi Sejarah Baru Perjuangan Islam dan Syiah

Agung Sedana • Senin, 2 Maret 2026 | 18:11 WIB

Seorang demonstran memegang poster Ali Khamenei saat ribuan orang berkumpul di Lapangan Enghelab untuk demonstrasi.
Seorang demonstran memegang poster Ali Khamenei saat ribuan orang berkumpul di Lapangan Enghelab untuk demonstrasi.

RADAR SITUBONDO - Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, meninggal dunia dalam serangan yang dikaitkan dengan operasi militer AS–Israel. Pengumuman itu langsung mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah dan memicu narasi yang lebih luas, yakni ancaman “babak baru” dalam sejarah perjuangan Islam, khususnya dalam konteks Syiah.

Khamenei wafat pada usia 86 tahun setelah memimpin Republik Islam sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi figur sentral dalam membentuk arah politik, militer, serta ideologis Iran.

Babak Baru dalam Narasi Syiah

Pernyataan keras muncul dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang menegaskan akan meluncurkan “operasi ofensif paling intens” terhadap Israel dan pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Dalam pernyataan resmi, kematian Khamenei disebut bukan sekadar kehilangan pemimpin, melainkan momen yang akan “membuka babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah.”

Narasi tersebut mengindikasikan konflik ini tidak lagi diposisikan semata sebagai konfrontasi geopolitik, tetapi sebagai perjuangan ideologis yang memiliki dimensi keagamaan.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran memang menempatkan dirinya sebagai poros utama kekuatan Syiah global, mendukung aktor-aktor yang berafiliasi dengan komunitas Syiah di berbagai kawasan.

Selama kepemimpinannya, Khamenei memperkuat dukungan terhadap kelompok seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta milisi Syiah di Irak. Hubungan Iran dengan Hamas di Gaza juga menjadi bagian dari strategi memperluas pengaruh terhadap dinamika Israel–Palestina.

Transisi Kepemimpinan dan Risiko Destabilisasi

Menyusul kematian Khamenei, pemerintah Iran segera membentuk dewan transisi yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, kepala kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan perwakilan dari Dewan Penjaga Konstitusi. Dewan ini akan menjalankan kepemimpinan sementara hingga Majelis Para Ahli memilih pemimpin tertinggi baru.

Majelis Para Ahli, badan beranggotakan 88 ulama, memiliki kewenangan konstitusional untuk menentukan pengganti. Proses ini disebut bisa dimulai dalam hitungan hari, namun tetap berisiko memicu ketegangan internal di tengah situasi keamanan yang rapuh.

Pemerintah juga memperingatkan kelompok separatis agar tidak memanfaatkan masa transisi untuk menciptakan instabilitas.

Respons Amerika dan Israel

Sebelum pengumuman resmi dari Teheran, Presiden AS Donald Trump menyatakan Khamenei tewas dalam operasi militer Israel. Trump bahkan menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan ulama di Teheran, pernyataan yang dinilai akan semakin memperuncing konflik.

Di sisi lain, pejabat senior Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan terburuk. Ia memperingatkan bahwa AS dan Israel telah “melewati batas” dan akan menerima konsekuensi.

Konflik Geopolitik atau Perang Identitas?

Yang kini menjadi sorotan bukan hanya eskalasi militer, tetapi juga perubahan framing konflik. Pernyataan bahwa darah Khamenei akan memicu kebangkitan dan perlawanan Syiah menunjukkan potensi polarisasi sektarian yang lebih luas di Timur Tengah.

Jika konflik ini dipersepsikan sebagai benturan antara kekuatan Syiah dan aliansi yang dianggap pro-Zionis, dampaknya bisa menjalar ke negara-negara dengan populasi Sunni–Syiah campuran, memperdalam garis perpecahan lama.

Dalam sejarah modern Timur Tengah, kematian figur sentral sering kali menjadi katalis perubahan besar. Kini, dunia menanti apakah transisi di Teheran akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih moderat atau justru memperkeras garis konfrontasi.

Editor : Agung Sedana
#ayatollah arafi #perang iran