RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menggemparkan pasar energi global. Lonjakan harga minyak yang memicu konflik di Iran diperkirakan akan membuat jutaan pengemudi di Eropa harus merogoh kocek lebih dalam saat mengisi bahan bakar.
Para analis memperingatkan, jika harga minyak dunia bertahan di kisaran USD 100 per barel, para pengendara mobil di kawasan Uni Eropa akan menanggung biaya tambahan bahan bakar hingga €55 miliar dalam setahun. Angka tersebut setara dengan rata-rata €220 atau sekitar Rp3,7 juta per pengemudi setiap tahun.
Perhitungan tersebut dijelaskan oleh para peneliti dari lembaga think tank Transport & Environment (T&E). Mereka membandingkan kondisi saat ini dengan situasi pada tahun 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak global menembus USD 100 per barel. Pembanding data lain berasal dari periode stabil harga energi pada tahun 2017 hingga 2019.
Menurut analisis tersebut, pengemudi yang menempuh perjalanan lebih jauh akan merasakan dampak yang lebih besar. Kenaikan biaya bahan bakar tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa.
Di Inggris, situasinya tidak jauh berbeda. Analisis terpisah dari Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) menyimpulkan bahwa harga minyak pada level USD 100 per barel akan membuat pengendara yang menempuh jarak sekitar 8.000 mil per tahun harus menanggung tambahan biaya bahan bakar sekitar £140 per tahun.
Baca Juga: Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Dibuka, Ini Syarat, Cara Daftar, dan Jadwal Pentingnya
Perhitungan tersebut dibuat dengan membandingkan harga bahan bakar pada awal Maret, sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Ketegangan geopolitik yang meningkat membuat pasar minyak bereaksi cepat dengan kenaikan harga.
Sementara itu, kendaraan listrik semakin terlihat menguntungkan di tengah-tengah harga minyak. Biaya operasional mobil listrik diketahui jauh lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin maupun solar.
Di Inggris, retensi tahunan bagi pemilik kendaraan listrik saat ini diperkirakan mencapai sekitar £870. Jika harga minyak benar-benar menyentuh USD 100 per barel, penghematan tersebut dapat meningkat hingga lebih dari £1.000 per tahun.
Baca Juga: Polisi Minta Warga Laporkan Premanisme Berkedok Ormas yang Paksa Minta THR, Hubungi Call Center 110
Kondisi ini semakin menegaskan perbedaan biaya operasional antara kendaraan listrik dan kendaraan konvensional. Lonjakan harga minyak listrik secara tidak langsung mempercepat pergeseran menuju transportasi berbasis.
Saat ini sekitar 7,7 juta mobil listrik telah beroperasi di jalanan Uni Eropa. Kehadiran kendaraan tersebut membantu menekan konsumsi minyak di kawasan itu. Dengan harga minyak di level USD 100, para pemilik mobil listrik di Eropa diperkirakan dapat menghemat sekitar €40 juta per hari.
Pada perdagangan Rabu pagi, harga minyak mentah Brent berada di sekitar USD 91 per barel. Pergerakan harga selanjutnya masih sangat bergantung pada lamanya gangguan pasokan akibat konflik geopolitik yang terjadi.
Antony Froggatt dari Transport & Environment menyatakan bahwa ketergantungan Eropa terhadap minyak impor membuat kawasan tersebut rentan terhadap dampak global. Setiap volatilitas di pasar energi berpotensi langsung membebani masyarakat.
Ia menilai Eropa harus segera mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mempercepat adopsi kendaraan listrik, penggunaan pompa panas, serta pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Menurut Froggatt, energi terbarukan memiliki keunggulan karena tidak dipengaruhi oleh dinamika geopolitik seperti minyak dan gas.
Pandangan serupa disampaikan Colin Walker dari Energy and Climate Intelligence Unit. Ia menilai lonjakan harga minyak saat ini mengingatkan kembali pada krisis energi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Walker menegaskan bahwa Inggris pada dasarnya tidak memiliki kendali nyata terhadap harga minyak global. Bahkan peningkatan pengeboran di Laut Utara sekalipun tidak akan mampu melindungi pengendara dari guncangan harga yang terjadi secara berkala.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak justru menjadi berkah bagi perusahaan energi dan negara produsen minyak. Pada 2022, ketika harga minyak mencapai USD 100 per barel, lima perusahaan minyak terbesar dunia yang dimiliki pemegang saham—BP, Shell, TotalEnergies, Chevron, dan ExxonMobil—mencatatkan keuntungan hampir USD 200 miliar.
Secara keseluruhan, industri minyak dan gas global telah menghasilkan sekitar USD 1 triliun keuntungan bersih setiap tahun selama setengah abad terakhir. Keuntungan tersebut bahkan bisa melonjak lebih tinggi pada periode harga energi yang mahal.
Uni Eropa sebelumnya sempat memberlakukan regulasi pajak keuntungan tak terduga (windfall tax) untuk sektor energi pada 2022 dan 2023 guna menekan lonjakan keuntungan perusahaan energi. Namun kebijakan tersebut kini telah berakhir.
Transport & Environment menilai Uni Eropa harus siap mengaktifkan kembali kebijakan tersebut apabila harga energi kembali melonjak dalam jangka panjang.
Sementara itu, Inggris masih menerapkan pajak keuntungan tak terduga untuk sektor energi. Menteri Keuangan Rachel Reeves bahkan telah diperingatkan para ahli agar tidak melonggarkan kebijakan tersebut, karena dinilai tidak akan memberikan manfaat nyata bagi konsumen.
Analisis T&E juga menyebutkan bahwa tambahan €55 miliar biaya yang dibayar pengendara di Uni Eropa pada 2022 sebenarnya bisa lebih besar jika pemerintah tidak mengurangi bea bahan bakar sebesar €30 miliar. Kebijakan tersebut pada dasarnya merupakan subsidi bahan bakar fosil yang ditanggung oleh para pembayar pajak.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kebijakan ramah lingkungan di Eropa memang mengalami pelemahan. Beberapa politisi sayap kanan berargumen bahwa pelonggaran regulasi iklim dapat menghemat biaya bagi masyarakat.
Namun laporan Keamanan Proyek Transisi menjanjikan guncangan energi pada tahun 2022 justru telah menimbulkan kerugian ekonomi hingga USD 1,8 triliun bagi Uni Eropa dan Inggris dalam periode 2022 hingga 2025.
Para penasihat resmi pemerintah Inggris di bidang iklim juga menegaskan bahwa mencapai target nol emisi bersih pada tahun 2050 sebenarnya akan lebih murah dibandingkan menghadapi satu guncangan harga minyak seperti yang terjadi akibat perang Ukraina.
Menurut Froggatt, penerapan kebijakan iklim justru dapat membuat negara-negara Eropa semakin rentan terhadap krisis energi di masa depan. Ia menilai langkah-langkah seperti menghentikan mobil berbahan bakar fosil pada tahun 2035 atau menunda harga karbon untuk pemanas dan bahan bakar hanya akan melemahkan situasi.
“Jika kebijakan iklim dikurangi, kita justru menjadi kurang aman dari guncangan energi global,” tegasnya.
Editor : Agung Sedana