RADARSITUBONDO.ID - Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada industri penerbangan global. Sejumlah maskapai penerbangan di kawasan Asia dan Eropa resmi menaikkan harga tiket pesawat mulai 10 Maret 2026 setelah harga bahan bakar pesawat atau avtur melonjak tajam.
Lonjakan biaya operasional tersebut dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia yang terjadi dalam waktu singkat. Maskapai penerbangan menyebut kondisi ini sebagai salah satu tekanan terbesar bagi industri penerbangan sejak pandemi.
Beberapa maskapai besar yang dulu mengumumkan kenaikan tarif antara lain Qantas Airways dari Australia, Scandinavian Airlines dari kawasan Eropa Utara, serta Air New Zealand. Ketiganya mulai menyesuaikan harga tiket sebagai respons atas melonjaknya harga bahan bakar.
Air New Zealand menjadi salah satu maskapai yang paling terbuka menjelaskan skema kenaikan biaya tersebut. Maskapai ini menambahkan biaya tambahan sebesar 10 dolar Selandia Baru untuk penerbangan domestik.
Untuk rute internasional jarak pendek, biaya tambahan mencapai 20 dolar Selandia Baru, sementara penerbangan jarak jauh dikenakan tambahan hingga 90 dolar Selandia Baru per tiket.
Lonjakan harga bahan bakar menjadi faktor utama dibalik keputusan tersebut. Sebelumnya harga avtur relatif stabil pada kisaran 85 hingga 90 dolar AS per barel. Namun dalam beberapa hari terakhir, harga melonjak tajam hingga mencapai 150 hingga 200 dolar AS per barel.
Gejolak ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasar energi global. Bahkan pada 9 Maret 2026, harga minyak mentah acuan dunia Brent Crude Oil sempat menyentuh angka 111 dolar AS per barel.
Baca Juga: Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Dibuka, Ini Syarat, Cara Daftar, dan Jadwal Pentingnya
Situasi yang penuh tantangan membuat sejumlah maskapai kesulitan memprediksi kondisi keuangan mereka. Air New Zealand bahkan secara resmi menghentikan laporan perkiraan keuangan untuk tahun 2026.
Manajemen maskapai menyatakan bahwa asumsi biaya bahan bakar yang digunakan dalam panduan bisnis sebelumnya tidak lagi relevan karena volatilitas harga energi yang sangat tinggi.
Dampak mempengaruhi harga bahan bakar juga dirasakan oleh maskapai masker di Amerika Serikat. CEO United Airlines, Scott Kirby, memperingatkan bahwa harga tiket di pasar AS berpotensi melonjak cepat jika harga avtur tetap berada pada level tinggi.
Menurut Kirby, maskapai yang tidak memiliki mekanisme perlindungan nilai bahan bakar atau lindung nilai bahan bakar akan menghadapi tekanan biaya lebih besar. Dalam kondisi tersebut, perusahaan penerbangan hampir tidak memiliki pilihan selain meneruskan beban biaya kepada penumpang tambahan melalui kenaikan tarif.
Tidak hanya harga bahan bakar yang menjadi masalah. Konflik di Timur Tengah juga memicu gangguan besar terhadap jalur penerbangan internasional. Sejumlah ruang udara di kawasan tersebut ditutup sementara karena alasan keamanan.
Akibatnya, banyak maskapai terpaksa mengubah jalur penerbangan mereka. Rute yang lebih panjang membuat waktu perjalanan meningkat dan konsumsi bahan bakar semakin besar.
Layanan pelacakan penerbangan global Flightradar24 mencatat beberapa pesawat yang akan mendarat di Dubai sempat diperintahkan berputar di udara setelah muncul ancaman serangan rudal di wilayah tersebut.
Perubahan rute juga mulai diterapkan oleh Qantas Airways. Maskapai nasional Australia kini sedang menyiarkan berbagai jalur alternatif untuk menghindari wilayah Timur Tengah.
Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara penerbangan lain melalui Amerika Serikat, sejumlah kota di Asia, hingga rute yang melintasi Johannesburg di Afrika Selatan. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan penerbangan sekaligus menjaga kelancaran operasional.
Meski biaya operasional meningkat, permintaan perjalanan internasional masih tergolong tinggi. Qantas melaporkan tingkat keterisian kursi atau load factor penerbangan menuju Eropa selama Maret tetap berada di atas 90 persen.
Di Indonesia, maskapai penerbangan juga mulai menyesuaikan dengan perkembangan situasi global tersebut. Indonesia AirAsia menyatakan masih memadukan dampak harga energi terhadap industri penerbangan regional.
Head of Indonesia Affairs Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi, menjelaskan bahwa biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar dalam operasional maskapai. Porsinya bisa mencapai 30 hingga 40 persen dari total biaya penerbangan.
Baca Juga: Ngutang Rp 1 Juta Berujung Tagihan Rp 32 Juta, Pasutri di Situbondo Dilaporkan ke Polisi
Oleh karena itu, kenaikan harga energi secara drastis menjadi tantangan serius bagi industri penerbangan, terutama bagi maskapai penerbangan berbiaya rendah yang memiliki margin keuntungan relatif tipis.
Sementara itu, Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia atau INACA telah mengajukan revisi Tarif Batas Atas kepada pemerintah. Usulan tersebut didasari oleh kenaikan harga avtur dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang meningkat lebih dari 30 persen sejak 2019.
Hingga kini pemerintah Indonesia masih mengkaji permintaan tersebut. Belum ada keputusan resmi terkait perubahan kebijakan tarif penerbangan domestik.
Jika harga energi terus berlanjut, para pengamat menilai kenaikan harga tiket pesawat secara global hampir tidak dapat dihindari. Industri penerbangan kini berada dalam posisi yang sulit, di tengah tingginya permintaan perjalanan namun juga tekanan biaya operasional yang semakin besar.
Editor : Agung Sedana