Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Trump Klaim Sudah Hancurkan Target di Pulau Kharg Iran, Selanjutnya Infrastruktur Minyak

Bayu Shaputra • Minggu, 15 Maret 2026 | 12:35 WIB

Pemandangan Terminal Minyak Pelabuhan Pulau Kharg di Iran.
Pemandangan Terminal Minyak Pelabuhan Pulau Kharg di Iran.

RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan militernya telah menghancurkan target militer di Pulau Kharg, Iran.

Pulau kecil yang terletak di Teluk Persia itu dikenal sebagai terminal utama ekspor minyak Iran dan memiliki peran penting dalam rantai pasokan energi global.

Pernyataan Trump disampaikan pada hari Jumat melalui unggahan di media sosial. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa operasi militer AS telah berhasil mengenai sasaran militer tertentu di pulau tersebut.

Namun, ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja tidak menargetkan fasilitas minyak yang menjadi jantung ekonomi Iran.

Demi alasan kesopanan, saya memilih untuk tidak menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu, tulis Trump. Ia kemudian memberikan peringatan keras bahwa keputusan tersebut dapat berubah sewaktu-waktu jika Iran melakukan tindakan yang dianggap mengganggu keamanan pelayaran internasional.

Baca Juga: Persib Bandung Punya Peluang Lebarkan Jarak Poin Jika Tumbangkan Borneo FC

Trump menegaskan bahwa jalur pelayaran melalui Selat Hormuz harus tetap bebas dan aman. Jika Iran atau pihak lain berupaya mengganggu jalur strategi tersebut, ia menyatakan Amerika Serikat tidak akan ragu untuk mempertimbangkan serangan terhadap fasilitas minyak di Pulau Kharg.

Beberapa jam setelah pernyataan Trump beredar, angkatan bersenjata Iran merespons dengan peringatan tegas. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur minyak dan energi Iran akan dibalas dengan serangan terhadap fasilitas energi milik perusahaan minyak yang bekerja sama dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pulau Kharg selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak terbesar Iran. Sebagian besar minyak mentah Iran dikirim ke pasar global melalui terminal yang berada di pulau tersebut.

Karena mengusulkan yang sangat strategis bagi perekonomian Iran, pulau ini hingga pekan lalu relatif terhindar dari serangan dalam rangkaian konflik yang memanas sejak akhir Februari.

Baca Juga: Two Guns Lerena Kembali Hadapi Merhy, Pertaruhkan Gelar WBC

Sehari sebelum pernyataan Trump, pejabat tinggi Iran juga telah memberikan sinyal keras mengenai kemungkinan eskalasi konflik. Ketua parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa serangan terhadap pulau-pulau di wilayah maritim selatan Iran dapat memicu balasan yang jauh lebih besar.

Dalam unggahannya di media sosial pada hari Kamis, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran bisa saja “meninggalkan semua kendali” jika wilayah strategisnya diserang. Ia menekankan bahwa pulau-pulau tersebut tidak hanya penting bagi perekonomian Iran, tetapi juga bagi keamanan nasional negara tersebut.

Pengumuman Trump muncul saat ia bersiap terbang menuju Florida untuk menghabiskan akhir pekan. Sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One, Trump sempat menjawab beberapa pertanyaan wartawan yang ikut dalam perjalanan. Namun saat ini ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai operasi militer terbaru terhadap Iran.

Di sisi lain, laporan media Amerika menyebut bahwa pemerintah AS sebenarnya telah mempertimbangkan opsi militer terhadap Pulau Kharg sejak beberapa waktu lalu. Axios melaporkan bahwa pejabat pemerintah sempat membicarakan kemungkinan merebut pulau karang sepanjang sekitar lima juta tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Iran.

Para analis energi menilai bahwa serangan terhadap Pulau Kharg berpotensi mengguncang pasar minyak dunia. Sejak konflik terbaru di kawasan itu dimulai pada tanggal 28 Februari, harga minyak global telah mengalami gangguan signifikan akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Peneliti dari lembaga think tank Chatham House, Neil Quilliam, mengatakan bahwa Pulau Kharg merupakan salah satu titik paling sensitif dalam sistem energi global. Menurutnya, jika pulau tersebut benar-benar menjadi sasaran serangan besar, harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi dari level saat ini.

Baca Juga: Sejarah Oscar: Dari Acara 15 Menit Tahun 1929 hingga Sistem Amplop Rahasia yang Dipakai Sampai Sekarang

Ia membayangkan harga minyak yang sempat menyentuh sekitar 120 dolar per barel pada awal pekan dapat melonjak hingga mendekati 150 dolar per barel jika terminal ekspor di Pulau Kharg terganggu.

Kenaikan tersebut dinilai akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian global, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.

Sementara itu, pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga mulai meningkat. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa militer telah memerintahkan pengerahan sekitar 2.500 marinir bersama kapal serbu amfibi USS Tripoli menuju kawasan tersebut.

Unit Ekspedisi Marinir dikenal memiliki kemampuan untuk melakukan operasi aneh amfibi. Namun unit ini juga memiliki tugas lain seperti memperkuat keamanan kedutaan, mengevakuasi warga sipil dalam situasi krisis, serta menjalankan misi bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana.

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Oscar 2026 Berlangsung pertengahan Maret

Oleh karena itu, pengerahan pasukan tersebut tidak selalu berarti bahwa operasi darat akan segera dilakukan. Para pejabat militer menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapan militer di kawasan yang saat ini sedang mengalami ketegangan tinggi.

Unit Ekspedisi Marinir ke-31 bersama kapal USS Tripoli diketahui berbasis di Jepang dan telah beroperasi di wilayah Samudra Pasifik dalam beberapa hari terakhir.

Citra satelit komersial bahkan sempat menangkap kapal tersebut berlayar sendirian di dekat Taiwan, yang berarti perjalanannya menuju kawasan Teluk Persia masih memerlukan waktu lebih dari satu pekan.

Di kawasan Laut Arab sendiri, Angkatan Laut Amerika Serikat telah memiliki kehadiran militer yang cukup besar. Awal pekan ini tercatat terdapat 12 kapal perang AS yang beroperasi di wilayah tersebut, termasuk induk USS Abraham Lincoln dan delapan kapal perusak.

Jika USS Tripoli bergabung dengan armada tersebut, kapal itu akan menjadi kapal terbesar kedua di kawasan setelah USS Abraham Lincoln. Kehadiran tambahan kapal perang ini diperkirakan semakin memperkuat posisi militer Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Situasi di kawasan Teluk Persia kini menjadi perhatian dunia internasional. Selain berpotensi memicu konflik militer yang lebih luas, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga membawa risiko besar terhadap stabilitas pasokan energi global dan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Editor : Agung Sedana
#Konflik Timur Tengah #Donald Trump #Pulau Kharg