RADAR SITUBONDO - Sebuah peristiwa kosmik langka berhasil diungkap para astronom setelah menemukan bukti kuat adanya tabrakan dahsyat antara dua planet di sistem bintang yang sangat jauh dari Bumi.
Temuan ini menarik perhatian komunitas ilmiah karena dianggap mirip dengan proses yang diduga membentuk Bulan dalam sejarah awal tata surya.
Penelitian tersebut dipimpin oleh tim astronom dari University of Washington yang menganalisis data teleskop dari sebuah bintang bernama Gaia20ehk. Bintang ini berada sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Puppis.
Awalnya, para ilmuwan melihat sesuatu yang aneh berupa cahaya dari bintang yang biasanya stabil tiba-tiba berkedip tidak teratur.
Setelah dianalisis lebih lanjut, perubahan cahaya tersebut ternyata disebabkan oleh awan debu panas yang sangat besar. Debu ini diyakini berasal dari tabrakan dua planet yang menghasilkan pecahan batuan dan material superpanas yang kemudian mengorbit bintang tersebut.
Para peneliti menduga tabrakan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum benturan besar terjadi, kedua planet kemungkinan beberapa kali saling bersinggungan dalam jarak sangat dekat sebelum akhirnya bertabrakan secara katastrofik.
Proses itu menghasilkan puing-puing yang memancarkan radiasi inframerah yang dapat terdeteksi oleh teleskop modern.
Penemuan ini dinilai sangat penting karena memberi gambaran langsung tentang proses pembentukan planet di alam semesta. Dalam teori astronomi, planet berbatu seperti Bumi terbentuk melalui serangkaian tabrakan antar benda langit besar pada masa awal sistem planet.
Para ilmuwan bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “rekaman ulang” dari kejadian yang diyakini terjadi sekitar 4,5 miliar tahun lalu ketika sebuah planet purba bernama Theia menabrak Bumi muda.
Dampak raksasa itu melemparkan material ke orbit yang kemudian berkumpul dan membentuk Bulan.
Menariknya, lokasi tabrakan planet tersebut berada pada jarak kira-kira satu satuan astronomi dari bintang induknya, hampir sama dengan jarak antara Bumi dan Matahari.
Kondisi ini membuat para ilmuwan semakin tertarik mempelajari apakah peristiwa serupa dapat menghasilkan planet baru di masa depan.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal Letters.
Para astronom berharap teleskop generasi baru seperti Vera C. Rubin Observatory dapat menemukan lebih banyak peristiwa serupa dalam beberapa tahun mendatang, sehingga membantu menjawab pertanyaan besar tentang bagaimana planet dan sistem tata surya terbentuk.
Editor : Agung Sedana