RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah kelompok Hamas Palestina secara terbuka meminta Iran untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk.
Seruan ini disampaikan pada Sabtu (14/3/2026) dan menjadi pernyataan yang cukup mengejutkan karena selama ini Teheran dikenal sebagai salah satu sekutu utama Hamas.
Dalam pernyataan resminya, Hamas meminta “saudara-saudara di Iran” agar menghindari penargetan terhadap negara-negara tetangga.
Meski demikian, kelompok tersebut tetap menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri dari serangan yang dilakukan Israel maupun Amerika Serikat.
Pernyataan ini menandai momen penting dalam dinamika kawasan politik. Selama beberapa dekade, Iran menjadi salah satu pendukung utama Hamas, baik dalam bentuk bantuan finansial maupun dukungan militer.
Hubungan tersebut membuat seruan Hamas kepada Teheran dianggap sebagai langkah yang jarang terjadi dalam hubungan kedua pihak.
Baca Juga: Jadwal Semifinal Swiss Open 2026: Putri KW, Ginting, Alwi Farhan dan Amri/Nita Siap Tempur
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa Republik Islam Iran berhak menanggapi setiap agresi sesuai dengan norma dan hukum internasional. Namun, kelompok tersebut juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dengan tidak memperluas target serangan ke negara-negara di sekitarnya.
Seruan Hamas muncul setelah Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Laporan awal menyebutkan sedikitnya sepuluh negara terdampak serangan tersebut.
Qatar menjadi salah satu negara yang secara terbuka mengonfirmasi adanya serangan. Pemerintah Doha menyatakan berhasil mencegat dua rudal pada hari Sabtu setelah ledakan terdengar di sekitar ibu kota. Otoritas setempat juga mengaku telah mengevakuasi beberapa wilayah sebagai langkah antisipasi.
Baca Juga: Ginting Bangkit! Lolos Semifinal Swiss Open 2026 Usai Menang Dramatis Lawan Mannepalli
Serangan Teluk tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan di sejumlah negara dan bahkan menyebabkan korban jiwa. Situasi ini memicu ketegangan yang semakin meningkat sejak konflik besar meletus di kawasan tersebut.
Hamas dalam pernyataannya juga menekankan pentingnya kerja sama antarnegara di Timur Tengah untuk menyelesaikan konflik yang semakin meluas. Kelompok itu mengingatkan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui dialog serta pemberlakuan kekerasan yang berkepanjangan.
Selain itu, Hamas mendorong komunitas internasional agar segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan konflik yang telah menyeret banyak pihak di kawasan. Menurut mereka, eskalasi yang terus terjadi berpotensi memperluas perang dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih besar.
Konflik di Timur Tengah sendiri semakin kompleks sejak kelompok Hizbullah ikut terlibat dalam pertempuran melawan Israel. Sejak interaksi tersebut, intensitas serangan meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa hampir 800 orang tewas akibat serangan Israel di wilayah tersebut. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya dampak konflik yang kini tidak lagi terbatas pada Jalur Gaza.
Di tengah situasi yang semakin panas, Hamas sebelumnya juga mengecam keras pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kelompok itu menyebut peristiwa tersebut sebagai kejahatan keji dan menilai tokoh tersebut memiliki peran penting dalam mendukung perjuangan Palestina.
Baca Juga: Ole Romeny Tegaskan “Berita Palsu” Soal Cedera, Tetap Perkuat Timnas Indonesia
Hamas bahkan secara terbuka mengakui bahwa Khamenei selama ini memberikan dukungan politik, diplomatik, dan militer perjuangan rakyat Palestina.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hubungan antara Hamas dan Iran tetap memiliki ikatan historis yang kuat meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam situasi terbaru.
Sementara itu, sejumlah negara Teluk justru mengambil pendekatan berbeda dalam menghadapi konflik yang terus berlanjut. Beberapa diantaranya memilih jalur diplomasi dan dukungan finansial untuk mendorong proses perdamaian.
Qatar dan Arab Saudi, misalnya, berkomitmen memberikan kontribusi finansial untuk mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina. Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan di Washington bulan lalu.
Dalam forum tersebut, kedua negara masing-masing menjanjikan dana sebesar 1 miliar dolar AS untuk mendukung Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Inisiatif itu bertujuan mempercepat upaya kemitraan guna meredakan konflik yang telah berlangsung lama di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Polisi Telusuri Rekaman CCTV di Salemba
Perbedaan pendekatan antara negara-negara di kawasan menunjukkan kompleksitas situasi geopolitik yang sedang berlangsung. Di satu sisi terdapat eskalasi militer yang melibatkan berbagai aktor regional, sementara di sisi lain muncul upaya diplomasi untuk mencapai perdamaian.
Seruan Hamas kepada Iran dinilai sejumlah pengamat sebagai sinyal kekhawatiran atas potensi meluasnya konflik ke tingkat regional yang lebih besar.
Jika serangan terhadap negara-negara Teluk terus berlangsung, ketegangan dapat memicu konfrontasi yang melibatkan lebih banyak negara.
Dengan situasi yang terus berkembang, stabilitas masa depan Timur Tengah masih terpenuhi. Berbagai pihak kini menunggu apakah seruan Hamas tersebut akan direspon oleh Iran atau justru menjadi bagian dari dinamika politik yang semakin kompleks di kawasan tersebut.
Editor : Agung Sedana