RADARSITUBONDO.ID - Tragedi kemanusiaan menggemparkan Kabul setelah sebuah rumah sakit rehabilitasi narkoba dilaporkan hancur akibat serangan udara yang dituding dilakukan oleh Pakistan, Senin (16/3). Insiden ini memicu ketegangan baru dalam konflik berkepanjangan antara kedua negara yang bertetangga tersebut.
Pemerintah Afghanistan menyebut jumlah korban jiwa terus meningkat secara signifikan. Juru bicara Kementerian Kesehatan, Sharafat Zaman, awalnya melaporkan sekitar 200 orang tewas.
Namun beberapa jam kemudian, Wakil Juru Bicara Pemerintah Hamdullah Fitrat memperbarui angka tersebut menjadi sekitar 400 korban meninggal di dunia, dengan lebih dari 250 orang mengalami luka-luka.
Rumah sakit yang menjadi sasaran disebut sebagai fasilitas rehabilitasi bagi pengguna narkoba. Seluruh bagian bangunan dilaporkan hancur, menyisakan puing-puing dan korban yang terjebak di dalamnya.
Rekaman dari televisi lokal menampilkan petugas pemadam kebakaran berjuang mengeluarkan api di tengah-tengah bangunan yang masih mengepulkan asap tebal.
Baca Juga: Dembele Siap Unjuk Gigi Lagi! PSG Tak Mau Kendur Meski Unggul 3 Gol atas Chelsea di Liga Champions
Kesaksian korban selamat menggambarkan situasi mencekam saat ledakan terjadi. Yousaf Rahim, salah satu pasien, mengaku berada di dalam bangsal ketika serangan menghantam.
Ia mengalami luka di kaki dan paha, sementara pasien lain berlarian panik ketika api dan secepatnya memenuhi ruangan. Banyak korban disebut tewas seketika, sementara yang terluka parah berteriak meminta bantuan di tengah kekacauan.
Di sisi lain, pemerintah Pakistan dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyatakan bahwa serangan yang dilakukan tidak menargetkan fasilitas sipil mana pun.
Islamabad menegaskan operasi militer mereka hanya menyasar instalasi militer dan infrastruktur yang diklaim terkait kelompok militan.
Baca Juga: Liverpool vs Galatasaray: Misi Comeback The Reds di Anfield, Lolos atau Tersingkir?
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Informasi Pakistan menyebut serangan tersebut dilakukan secara presisi dan hati-hati untuk menghindari kerusakan tambahan. Mereka juga menuding klaim Afghanistan sebagai informasi yang bertujuan membangkitkan sentimen publik.
Konflik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah perbatasan kedua negara. Bentrokan senjata telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir, termasuk saling serang menggunakan mortir yang menembakkan warga sipil di kedua sisi. Sebelumnya, empat orang termasuk anak-anak dilaporkan tewas di wilayah Afghanistan tenggara akibat serangan lintas batas.
Situasi semakin kompleks setelah Dewan Keamanan PBB memperbaiki peningkatan upaya pemberantasan terorisme di Afghanistan. Resolusi terbaru juga memperluas mandat misi politik PBB di negara tersebut.
Pakistan selama ini menuduh pemerintah Taliban Afghanistan melindungi kelompok militan seperti Tehrik-i-Taliban Pakistan. Sebaliknya, Kabul membantah keras tuduhan tersebut dan menuding Islamabad melakukan pelanggaran wilayah serta menyerang warga sipil.
Pengamat internasional menilai insiden di Kabul ini berpotensi menyebabkan konflik menjadi lebih luas. Terlebih lagi, Islamabad disebut telah menggambarkan situasi saat ini sebagai “perang terbuka”, menandai eskalasi serius dalam hubungan kedua negara.
Baca Juga: BPBD: Cuaca Ekstrem di Situbondo Diprediksi Berakhir Bulan Depan, Warga Tetap Diminta Waspada
Sementara itu, organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch mendesak penyelidikan independen atas serangan tersebut.
Peneliti mereka, Fereshta Abbasi, menegaskan bahwa fasilitas sipil seperti rumah sakit tidak boleh menjadi sasaran dalam kondisi apa pun.
Editor : Agung Sedana