RADARSITUBONDO.ID - Krisis energi di Kuba mencapai titik kritis setelah jaringan listrik nasional dilaporkan runtuh total, memicu pemadaman besar yang berdampak pada hampir seluruh penduduk pulau tersebut. Sekitar 10 juta warga terpaksa hidup tanpa aliran listrik di tengah kondisi ekonomi yang semakin tertekan.
Operator jaringan listrik nasional Kuba menyatakan bahwa sistem kelistrikan negara mengalami kegagalan menyeluruh. Insiden ini menjadi bagian dari rangkaian pemadaman api besar yang terus berulang dalam beberapa bulan terakhir, menampilkan rapuhnya infrastruktur energi yang sudah tua dan kekurangan perawatan.
Pemadaman tidak hanya berlangsung singkat, namun kerap memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Situasi ini bahkan memicu ketegangan sosial yang jarang terjadi, dengan munculnya aksi protes warga pada akhir pekan lalu.
Ketidakpuasan masyarakat meningkat seiring sulitnya akses listrik yang berdampak pada aktivitas sehari-hari, mulai dari penyimpanan makanan hingga layanan kesehatan.
Baca Juga: Anwar Usman Akhiri Masa Jabatan, Bacakan Putusan Terakhir di Mahkamah Konstitusi
Perusahaan listrik negara Kuba, UNE, menyatakan tengah melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab utama runtuhnya sistem tersebut. Namun, sejumlah pihak menilai krisis ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan akumulasi masalah struktural yang telah berlangsung lama.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan geopolitik. Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan kebijakan perbankan terhadap Kuba, termasuk menjamin pasokan minyak dari Venezuela yang selama ini menjadi penopang utama energi negara tersebut.
Kebijakan itu juga disertai ancaman sanksi terhadap negara lain yang mencoba mengirimkan minyak ke Kuba, sehingga membuka akses energi bagi negara Karibia tersebut.
Dampaknya langsung terasa pada pasokan bahan bakar. Berdasarkan data pelacakan kapal, sepanjang tahun ini Kuba hanya menerima dua pengiriman minyak dalam jumlah terbatas.
Salah satunya berasal dari Meksiko pada bulan Januari, sementara pengiriman lainnya berupa gas minyak cair datang dari Jamaika pada bulan Februari. Minimnya pasokan ini membuat pembangkit listrik kesulitan beroperasi secara optimal.
Baca Juga: Pemenang Piala Oscar 2026 Lengkap, Film One Battle After Another Dominasi Academy Awards
Sementara itu, Venezuela yang sebelumnya menjadi pemasok utama justru belum mengirimkan minyak ke Kuba sepanjang tahun ini.
Bahkan, kapal tanker yang sempat bersiap untuk mengangkut bahan bakar dilaporkan belum meninggalkan wilayah perairannya. Kondisi ini semakin menegaskan terputusnya rantai pasokan energi yang selama ini menjadi Andalan Havana.
Data citra satelit juga menunjukkan tidak adanya aktivitas penting di pelabuhan utama Kuba seperti Matanzas dan Moa, yang biasanya menjadi pusat penerimaan minyak mentah dan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Pelabuhan lain seperti Havana dan Cienfuegos pun mencatat aktivitas minimal selama lebih dari satu bulan terakhir.
Di tengah situasi yang memburuk, pemerintah Kuba berusaha membuka komunikasi dengan Amerika Serikat guna meredakan tekanan. Harapan untuk mencapai kesepakatan menjadi salah satu jalan keluar yang dipertimbangkan, mengingat krisis energi kini telah merembet ke sektor ekonomi dan sosial.
Namun, pernyataan terbaru dari Presiden AS Donald Trump justru menambah ketegangan. Ia menyebut Kuba berada dalam kondisi sangat lemah dan melambangkan ambisi untuk mengambil alih negara tersebut. Pernyataan ini mempertegas posisi keras Washington terhadap Havana di tengah krisis yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Drama VAR Warnai Duel Persib vs Borneo FC, Bojan Hodak Sebut Timnya Layak Menang
Para analis menilai, tanpa pasokan energi yang stabil atau dukungan internasional, Kuba berisiko menghadapi krisis yang lebih dalam. Infrastruktur pembangkit listrik yang usang, ditambah kelangkaan bahan bakar, membuat sistem kelistrikan rentan kolaps sewaktu-waktu.
Bagi masyarakat Kuba, krisis ini bukan sekadar persoalan energi, melainkan persoalan hidup sehari-hari. Pemadaman listrik berkepanjangan telah mengganggu hampir seluruh aspek kehidupan, memperlihatkan betapa pentingnya ketahanan energi bagi keberlangsungan suatu negara.
Editor : Agung Sedana