RADARSITUBONDO.ID - Arab Saudi dilaporkan mendorong Amerika Serikat untuk meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran di tengah konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Informasi tersebut dikonfirmasi oleh sumber intelijen Saudi, yang menyebut Riyadh kini tengah menimbang langkah strategis, termasuk kemungkinan keterlibatan langsung dalam konflik.
Sumber tersebut membenarkan laporan New York Times yang mengungkap bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, telah menyampaikan pandangannya kepada Presiden AS, Donald Trump, agar tidak menghentikan operasi militer terhadap Iran.
Dalam pandangan Riyadh, kampanye militer yang melibatkan AS dan Israel dinilai sebagai “kesempatan bersejarah” untuk mengubah peta geopolitik kawasan.
Baca Juga: Puncak Arus Balik Kedua, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas di Jalur Trans Jawa
Tak hanya mendorong kelanjutan operasi, Arab Saudi juga disebut meminta peningkatan skala serangan. Pernyataan Trump kepada wartawan turut menguatkan indikasi tersebut. “Ya, dia seorang pejuang. Dia berjuang bersama kita,” ujar Trump.
Meski demikian, hingga kini belum ada tanda keterlibatan militer langsung Arab Saudi dalam konflik yang telah berlangsung hampir empat pekan tersebut. Seorang analis geopolitik Saudi, Mohammed Alhamed, menilai keputusan Riyadh sangat bergantung pada respons Iran terhadap upaya diplomasi yang tengah digagas, termasuk mediasi dari Pakistan.
“Yang terpenting sekarang adalah keputusan Iran,” kata Alhamed. “Jika Iran terlibat secara serius, masih ada jalan untuk menahan eskalasi. Jika mereka menolak syarat-syarat tersebut dan melanjutkan serangannya, ambang batas untuk tindakan Saudi akan terlampaui.”
Baca Juga: Selain Yaqut dan Stafsus, KPK Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Ia menegaskan bahwa Arab Saudi tidak bertindak secara emosional dalam situasi ini. “Mereka sedang menyesuaikan responsnya dan mempersiapkan skenario di mana eskalasi, jika terjadi, akan dilakukan dengan sengaja dan tegas,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa Arab Saudi “tidak mendorong perang” dan masih berupaya menghindari keterlibatan langsung sambil tetap membuka semua opsi.
Di sisi lain, Arab Saudi juga mulai merasakan dampak langsung dari konflik. Serangan pesawat tanpa awak yang dikaitkan dengan Iran menghantam fasilitas minyak di Yanbu, wilayah pesisir Laut Merah. Serangan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Iran mampu memperluas tekanan, termasuk terhadap jalur distribusi energi vital Saudi.
Keunggulan infrastruktur pipa minyak menuju Laut Merah membuat Arab Saudi relatif lebih tahan terhadap gangguan di Selat Hormuz. Namun, serangan ke Yanbu menunjukkan bahwa jalur alternatif tersebut pun tidak sepenuhnya aman. Risiko semakin meningkat jika kelompok Houthi di Yaman turut terlibat dengan kemampuan rudal mereka.
Pakar pertahanan Saudi, Hesham Alghannam, menilai Riyadh masih mempertahankan posisi hati-hati. “Saya yakin Arab Saudi masih mempertahankan netralitas yang hati-hati dalam perang Iran-Israel-AS,” ujarnya. Namun ia mengingatkan, “Jika Houthi menyerang aset Saudi, Riyadh mungkin akan beralih ke dukungan koalisi defensif atau pembalasan terbatas.”
Baca Juga: Aksi Blusukan Prabowo Subianto di Rel Kereta Kawasan Senen, Soroti Hunian Padat dan Tidak Layak
Rivalitas panjang antara Arab Saudi dan Iran turut menjadi latar belakang ketegangan ini. Kedua negara selama ini bersaing dalam pengaruh regional, termasuk dalam dimensi ideologis antara Sunni dan Syiah. Dalam dokumen lama diplomasi AS, bahkan pernah muncul dorongan dari elite Saudi untuk mengambil langkah keras terhadap Teheran.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan Riyadh cenderung lebih diplomatis. Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui pemulihan hubungan diplomatik yang dimediasi China. Langkah tersebut muncul setelah kekecewaan terhadap respons AS atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi pada 2019.
Pengamat kebijakan internasional, Ellie Geranmayeh, menilai situasi saat ini menempatkan Arab Saudi dalam posisi sulit. “Dia berinvestasi secara finansial pada Trump dan keluarga Trump serta perusahaannya dan Gedung Putihnya, tetapi pada akhirnya pandangan Saudi dan seluruh Teluk telah dikesampingkan oleh keinginan Benjamin Netanyahu,” ujarnya.
Menurutnya, kini Riyadh menghadapi dilema strategis. “Setelah AS menolak untuk membela mereka, Arab Saudi beralih mendekatkan diri ke Iran, dengan harapan Iran tidak akan membalas dalam konflik. Sekarang perang telah dimulai dan MBS kalah taruhan bahwa Iran tidak akan membalas,” katanya.
Sementara itu, Uni Emirat Arab mengambil sikap lebih tegas dengan menyerukan hasil militer yang menentukan terhadap Iran. Namun Arab Saudi masih terlihat lebih berhati-hati, mengingat risiko serangan balasan yang dapat mengancam jalur ekonomi vitalnya.
“Setelah bom berhenti berjatuhan, akan ada pemikiran mendalam di Riyadh,” kata Geranmayeh. “Ini bukan tentang menjauhkan AS, tetapi tentang memiliki lebih banyak pilihan.”
Editor : Bayu Shaputra