RADARSITUBONDO.ID - Kelompok Houthi di Yaman mulai terlibat langsung dalam konflik Timur Tengah dengan melancarkan serangan ke Israel menggunakan rudal dan drone. Aksi ini menjadi yang pertama dilakukan sejak meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan tersebut terjadi pada Sabtu, 28 Maret, ketika kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman itu meluncurkan dua gelombang serangan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Langkah ini menandai pembukaan front baru dalam konflik yang terus meluas dan telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Militer Israel menyatakan bahwa seluruh serangan berhasil dicegat sebelum mencapai target. Meski demikian, Houthi menegaskan tidak akan menghentikan aksinya. Mereka menyatakan akan terus bergerak sebagai bagian dari dukungan terhadap “front perlawanan di Palestina, Lebanon, Irak, dan Iran”.
Baca Juga: Manchester United Dapat Lampu Hijau Rekrut Sandro Tonali dari Newcastle
Keterlibatan Houthi sebenarnya telah lama diperkirakan. Momentum ini muncul bersamaan dengan langkah Iran yang membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru bahwa Houthi dapat kembali mengganggu jalur pelayaran internasional di Laut Merah, termasuk potensi penutupan Selat Bab al-Mandeb yang strategis.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Nyaris Posisi 2, Akhirnya Start Keempat di Moto3 Amerika 2026
Di sisi lain, dinamika militer terus berkembang. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyebut bahwa Washington berharap operasi militer terhadap Iran dapat diakhiri dalam beberapa pekan ke depan.
Namun, pada saat yang sama, pengerahan tambahan pasukan Marinir AS mulai dilakukan ke kawasan tersebut. Presiden Donald Trump disebut akan bergerak “maksimal” untuk menyesuaikan strategi sesuai perkembangan situasi.
Minimnya tanda-tanda deeskalasi membuat kekhawatiran meningkat. Posisi keras yang diambil oleh AS dan Iran dinilai berpotensi memperluas konflik hingga sulit dikendalikan.
Dalam 24 jam terakhir, serangan udara masih berlangsung. Militer Israel mengklaim telah menargetkan fasilitas penelitian Iran yang berkaitan dengan pengembangan senjata angkatan laut.
Ledakan keras dilaporkan mengguncang Teheran pada Sabtu malam. Serangan juga dilaporkan terjadi di berbagai lokasi lain. Media Iran menyebut sedikitnya lima orang tewas setelah sebuah unit perumahan di Kota Zanjan, wilayah barat laut Iran, menjadi sasaran serangan.
Di ibu kota Teheran, otoritas setempat menyatakan bahwa Universitas Sains dan Teknologi menjadi salah satu fasilitas pendidikan yang turut terdampak. Situasi ini memicu reaksi dari Korps Garda Revolusi Iran yang kemudian mengeluarkan ancaman terhadap universitas di Israel dan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Baca Juga: Jadwal Resmi Masuk Sekolah Pasca Lebaran 2026 untuk SD, SMP, dan SMA
Selain itu, kantor berita setempat melaporkan bahwa sebuah waduk air di kota Haftgel, Provinsi Khuzestan, juga menjadi target serangan. Kerusakan infrastruktur sipil terus bertambah seiring intensitas serangan yang belum menunjukkan tanda mereda.
Kementerian Kesehatan Iran mencatat jumlah korban tewas telah mencapai 1.937 orang sejak konflik dimulai, termasuk 230 anak-anak. Sementara itu, Palang Merah Iran menyebut lebih dari 93.000 properti sipil mengalami kerusakan akibat serangan yang berlangsung.
Editor : Bayu Shaputra