RADARSITUBONDO.ID - Jutaan warga diperkirakan turun ke jalan di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu waktu setempat dalam gelombang aksi nasional bertajuk “No Kings”. Aksi ini menjadi gelombang ketiga dari rangkaian protes besar yang menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Demonstrasi berlangsung serentak di seluruh 50 negara bagian di Amerika Serikat dan meluas hingga 16 negara lain. Skala tersebut menjadikan aksi ini sebagai salah satu protes paling terkoordinasi dalam sejarah modern negara itu.
Penyelenggara aksi melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi anti-otoritarian seperti Indivisible dan 50501, serikat pekerja, hingga kelompok akar rumput. Mereka melaporkan lebih dari 3.000 titik aksi digelar secara bersamaan di seluruh penjuru Amerika.
Baca Juga: Herdman Bela Sananta, Samakan Perannya dengan Olivier Giroud
Gelombang protes ini melanjutkan aksi serupa yang sebelumnya digelar pada Oktober 2025, yang kala itu disebut diikuti sekitar 7 juta orang di seluruh Amerika Serikat. Angka tersebut mencerminkan besarnya mobilisasi publik dalam menyuarakan ketidakpuasan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Demonstrasi kali ini berlangsung di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump. Bahkan, sebagian pendukung garis kerasnya turut menyampaikan kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat luas.
Isu yang diangkat dalam aksi ini beragam. Mulai dari konflik dengan Iran yang menyebabkan 13 personel militer Amerika Serikat tewas, lonjakan harga barang dan bahan bakar minyak, kebijakan tarif impor yang berdampak pada kebutuhan sehari-hari, hingga antrean panjang pemeriksaan keamanan di bandara akibat kebuntuan pembahasan anggaran.
Baca Juga: Mauro Zijlstra Cedera, PSSI Panggil Jens Raven Jelang Final Indonesia vs Bulgaria
Di Minnesota, ribuan massa memadati area depan Gedung Capitol negara bagian. Aksi tersebut disebut sebagai salah satu titik utama demonstrasi. Pendiri Indivisible, Ezra Levin, bahkan menyebutnya sebagai “protes terbesar dalam sejarah Minnesota”.
Sementara itu di Washington DC, aksi berlangsung dengan nuansa berbeda. Belasan ibu asal Palestina menggelar unjuk rasa di depan Lincoln Memorial dengan membentangkan bendera Palestina berukuran besar sebagai simbol solidaritas.
"Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan," kata seorang pengunjuk rasa, Hazami Barmada (43).
"Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel," ucap Barmada.
Di sejumlah lokasi, aksi juga diwarnai demonstrasi tandingan. Salah satunya terjadi di West Palm Beach, Florida, ketika sekitar 50 pendukung Trump yang mengenakan atribut “Proud Boys” berhadapan langsung dengan massa “No Kings”.
Baca Juga: Sekolah Daring di Situbondo Segera Diterapkan? Dispendikbud Masih Tunggu Keputusan Bupati!
Meski demikian, koalisi penyelenggara menegaskan bahwa aksi mereka bersifat damai. Mereka melarang segala bentuk senjata dalam demonstrasi dan memberikan pelatihan deeskalasi konflik kepada para koordinator lapangan guna mencegah potensi bentrokan.
Pengamanan ketat juga menjadi perhatian, mengingat insiden pada aksi pertama “No Kings” pada Juni 2025. Saat itu, seorang pengunjuk rasa tewas dan satu lainnya terluka setelah seorang relawan 50501 melepaskan tembakan karena melihat seseorang membawa senjata api dalam aksi di Salt Lake City, Utah.
Editor : Bayu Shaputra