Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Hari ke-30 Perang AS-Israel dan Iran, Pakistan Jadi Poros Negosiasi Regional

Bayu Shaputra • Senin, 30 Maret 2026 | 15:00 WIB
Bendera negara Pakistan. (Deccan Harald)
Bendera negara Pakistan. (Deccan Harald)

 

RADARSITUBONDO.ID - Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-30, memicu kekhawatiran global sekaligus mendorong konsolidasi kekuatan regional. Sejumlah negara kunci berkumpul di Islamabad, Pakistan, untuk meredakan konflik yang kini berdampak langsung pada krisis energi dunia.

Pertemuan tingkat tinggi itu dihadiri Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, serta Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud.

Ketiganya tiba pada Minggu (29/3/2026) untuk melakukan pembicaraan intensif selama dua hari bersama Wakil Perdana Menteri Pakistan yang juga menjabat Menteri Luar Negeri, Ishaq Dar.

Islamabad kini dipandang sebagai pusat diplomasi baru dalam upaya mengakhiri konflik. Platform pertemuan ini sebelumnya dibahas di Riyadh, dan kini dikembangkan menjadi forum regional yang lebih luas. Pakistan bahkan membuka peluang keterlibatan negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat blok diplomatik tersebut.

Langkah ini tidak lepas dari komunikasi intensif antara Islamabad dan Teheran. Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Ishaq Dar menyampaikan dorongan empat negara untuk segera menghentikan perang.

Araghchi dalam kesempatan itu menuding Amerika Serikat dan Israel melakukan “kejahatan keji” dengan menyerang sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur sipil di Iran.

Baca Juga: Fenomena Pink Moon April 2026 Capai Puncak, Ini Waktu Pengamatan di Indonesia

Sebagai bagian dari langkah membangun kepercayaan, Islamabad mengumumkan bahwa Teheran telah memberikan izin kepada 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz. Jalur vital tersebut sebelumnya ditutup akibat konflik, dengan skema pelayaran dua kapal per hari sebagai tahap awal normalisasi.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum tambahan selama 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai urat nadi energi global karena mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Penutupannya telah memicu krisis energi terburuk sejak embargo minyak 1973.

Trump juga mengajukan proposal gencatan senjata berisi 15 poin. Namun Iran menolak dan mengajukan syarat balasan, termasuk penghentian agresi militer, pembayaran kompensasi perang, serta jaminan keamanan jangka panjang untuk mencegah serangan berulang.

Konflik ini bermula pada 28 Februari, saat Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meluncurkan operasi militer terhadap Iran, di tengah pembicaraan nuklir yang saat itu sedang berlangsung. Negosiasi tersebut dimediasi oleh Oman, yang menyatakan bahwa kesepakatan sebenarnya sudah “hampir tercapai” sebelum perang pecah.

Posisi Pakistan dalam konflik ini dinilai sangat kompleks. Di satu sisi, negara tersebut memiliki hubungan pertahanan erat dengan Arab Saudi.

Di sisi lain, Pakistan berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer dan memiliki kedekatan budaya yang kuat. Komposisi demografi juga menjadi faktor penting, karena Pakistan memiliki populasi syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran.

Analis politik Zahid Hussain menyebut situasi ini sebagai posisi yang sulit dijaga keseimbangannya. Ia menilai Pakistan secara terbuka mengutuk serangan terhadap Iran dan negara-negara Teluk, menyebut Israel secara eksplisit, namun tetap berhati-hati untuk tidak menyinggung Amerika Serikat secara langsung.

Hubungan Islamabad dan Washington sendiri mengalami penghangatan sejak Trump kembali menjabat, menggantikan Joe Biden. Trump bahkan beberapa kali menerima Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dan menyebutnya sebagai “jenderal favorit saya”.

Menurut Zahid Hussain, Pakistan lebih berperan sebagai penyampai pesan antara AS dan Iran ketimbang mediator yang memiliki pengaruh kuat. Meski demikian, jika upaya ini berhasil, posisi diplomatik Pakistan akan meningkat signifikan. Sebaliknya, kegagalan justru berpotensi membuat negara tersebut menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.

Baca Juga: Start Posisi 4, Veda Ega Pratama Gagal Selesaikan Balapan Moto3 Amerika 2026

Pengamat Timur Tengah Mahjoob Zweiri melihat pertemuan Islamabad juga memiliki dimensi politik domestik Amerika Serikat. Ia menilai forum tersebut dapat menarik perhatian Trump, khususnya terkait Board of Peace yang dibentuknya namun kini tidak aktif.

Di luar faktor politik, tekanan ekonomi menjadi alasan utama di balik percepatan diplomasi. Pakistan menghadapi risiko besar jika gangguan pasokan energi terus berlanjut. Selain itu, jutaan pekerja Pakistan di negara-negara Teluk terancam kehilangan pekerjaan apabila konflik meluas.

Negara-negara Teluk sendiri sudah merasakan dampak signifikan, terutama akibat penurunan ekspor energi. Serangan drone dan rudal Iran hampir setiap hari menargetkan fasilitas industri dan energi, memaksa sejumlah perusahaan minyak mengumumkan force majeure atas kontrak pasokan mereka.

Meski mengecam serangan Iran, negara-negara Teluk sejauh ini belum mengambil langkah militer langsung. Iran juga diketahui menargetkan pangkalan militer di kawasan yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat sejak awal konflik.

Analis politik Mahmoud Alloush menilai perang ini memperdalam keraguan sekutu AS terhadap jaminan keamanan Washington. Ia melihat pertemuan Islamabad sebagai awal dari kemungkinan pembentukan “aliansi Islam” untuk menghadapi dinamika geopolitik baru di kawasan.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan kepada negara-negara Arab agar tidak terlibat dalam konflik melawan Iran. Ia menuduh Israel berupaya memecah belah dunia Muslim di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Editor : Bayu Shaputra
#Diplomasi Islamabad #perang as israel iran #pakistan