RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Indonesia menyampaikan kecaman keras atas serangan yang menewaskan satu personel Kontingen Garuda yang bertugas dalam misi UNIFIL di Lebanon selatan.
Insiden tersebut memicu desakan agar dilakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan guna mengungkap penyebab serta pihak yang bertanggung jawab.
Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menjelaskan bahwa personel tersebut gugur akibat tembakan artileri yang terjadi di sekitar posisi pasukan Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, wilayah Lebanon selatan, pada Minggu waktu setempat. Peristiwa itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan perbatasan.
"Indonesia mengecam keras insiden yang terjadi dan mendesak investigasi yang menyeluruh dan transparan,” kata Kemlu RI dalam pernyataan resminya. Pemerintah juga mengonfirmasi bahwa selain korban jiwa, tiga personel lainnya mengalami luka-luka dan saat ini tengah mendapatkan perawatan medis.
Baca Juga: Trump Klaim AS Mulai Kuasai Selat Hormuz dalam Konflik dengan Iran
Upaya koordinasi terus dilakukan pemerintah Indonesia dengan pihak UNIFIL untuk memastikan proses pemulangan jenazah dapat berjalan secepatnya. Di sisi lain, perhatian juga diberikan terhadap kondisi korban luka agar memperoleh penanganan terbaik di fasilitas kesehatan setempat.
“Kami menyampaikan penghormatan tertinggi kepada personel yang gugur atas dedikasi dan jasanya bagi perdamaian dan keamanan internasional,” ujar Kemlu RI. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung misi perdamaian dunia, sekaligus menunjukkan duka mendalam atas kehilangan prajurit terbaik bangsa.
Pemerintah Indonesia kembali menegaskan kecamannya terhadap serangan yang terjadi di wilayah Lebanon selatan, termasuk aksi militer yang dilakukan oleh Israel. Indonesia menyerukan agar semua pihak menghormati kedaulatan Lebanon serta menghentikan serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil.
Baca Juga: Anggota TNI Gugur di Lebanon Saat Misi UNIFIL, PBB Kutuk Serangan di Tengah Konflik Israel-Hizbullah
Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap personel penjaga perdamaian PBB sesuai dengan hukum internasional yang berlaku. “Serangan apapun terhadap pasukan perdamaian tak dapat diterima dan merongrong upaya bersama menjaga perdamaian dan stabilitas,” tegas Kemlu RI.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah sendiri terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Aksi tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke sejumlah target di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.
Konflik yang semula terpusat kemudian meluas hingga ke Lebanon setelah kelompok Hizbullah melancarkan serangan ke target militer Israel. Serangan balasan dari Israel dilaporkan menyebabkan korban besar di pihak Lebanon, dengan jumlah korban tewas mencapai lebih dari seribu orang dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Dalam eskalasi yang terus meningkat tersebut, insiden di perbatasan Israel-Lebanon juga berdampak pada pasukan penjaga perdamaian internasional.
Sejumlah personel UNIFIL dari berbagai negara dilaporkan turut menjadi korban, menambah kekhawatiran atas keselamatan pasukan yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik.
Pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi secara dekat serta berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan otoritas terkait.
Editor : Bayu Shaputra