RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Tiongkok kembali menegaskan sikapnya terkait kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba. Beijing meminta Washington segera menghentikan berbagai bentuk tekanan, termasuk blokade ekonomi dan sanksi yang selama ini diberlakukan terhadap negara tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menyampaikan bahwa langkah-langkah tersebut dinilai tidak lagi relevan dan justru memperburuk situasi kemanusiaan di Kuba.
"Beijing mendesak AS untuk segera menghentikan blokade, sanksi, dan segala bentuk tekanan dan kekerasan terhadap Kuba," ujarnya.
Baca Juga: Daftar Tanggal Merah April 2026, Ada Long Weekend di Awal Bulan
Dalam pernyataan lanjutan, Mao juga menegaskan komitmen negaranya untuk terus memberikan dukungan kepada Havana dalam berbagai bentuk. Ia menyebut Tiongkok akan tetap berdiri bersama Kuba di tengah tekanan eksternal yang terus berlangsung.
Pernyataan dari Beijing ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan komentar yang memicu perhatian internasional.
Dalam keterangannya kepada wartawan saat perjalanan menuju Washington, Trump menyebut Kuba sebagai salah satu target berikutnya dalam agenda militernya.
“Kuba akan menjadi yang berikutnya,” kata Trump singkat.
Baca Juga: Cara Cek Hasil SNBP 2026 Secara Online, Simak Jadwal dan Informasinya
Ucapan tersebut disampaikan di tengah situasi konflik yang semakin meningkat di Timur Tengah, khususnya terkait operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan udara yang berlangsung sejak akhir Februari kini telah memasuki bulan kedua.
Dalam periode tersebut, korban jiwa dilaporkan mencapai lebih dari 1.400 orang. Di antara korban itu terdapat Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Situasi tidak berhenti pada serangan udara. Iran merespons dengan meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
Konflik yang terus berkembang ini juga berdampak pada pasukan AS. Sedikitnya 13 prajurit dilaporkan tewas, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, sejumlah fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah mengalami kerusakan.
Editor : Bayu Shaputra