Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Perang Iran Memanas, Paus Leo Minta Trump Segera Cari Solusi Damai

Bayu Shaputra • Rabu, 1 April 2026 | 13:25 WIB
Paus Leo XIV menyampaikan pidato saat kunjungan di Lebanon.
Paus Leo XIV menyampaikan pidato saat kunjungan di Lebanon.

 

RADARSITUBONDO.ID - Paus Leo secara terbuka mendesak Donald Trump untuk segera mengambil langkah nyata menghentikan perang Iran yang kian meluas dan berdampak global. Seruan tersebut mencerminkan perubahan nada yang semakin tegas dari Vatikan dalam merespons eskalasi konflik bersenjata.

Pernyataan itu disampaikan di luar kediamannya di Castel Gandolfo, kawasan dekat Roma, pada Selasa waktu setempat. Dalam keterangannya kepada wartawan, Paus Leo menyoroti urgensi langkah deeskalasi di tengah meningkatnya intensitas konflik yang dinilai telah melampaui batas regional dan mengarah pada instabilitas global.

Ia mengungkapkan adanya sinyal dari Washington terkait keinginan untuk mengakhiri perang. “Saya diberitahu bahwa Presiden Trump baru-baru ini menyatakan ingin mengakhiri perang,” ujar Paus Leo, merujuk pada perkembangan terbaru di Amerika Serikat. Namun, pengakuan tersebut diikuti dengan dorongan agar komitmen tersebut diwujudkan dalam langkah konkret.

Baca Juga: Fakta Baru Kasus Mayat dalam Freezer di Bekasi, Barang Korban Dijual Lewat Facebook

“Saya berharap dia sedang mencari jalan keluar, saya berharap dia mencari cara untuk mengurangi tingkat kekerasan,” katanya. Pernyataan ini dinilai penting karena jarang seorang Paus menyampaikan seruan langsung kepada kepala negara dengan nada sejelas dan setegas itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, intensitas kritik Paus Leo terhadap perang Iran meningkat signifikan. Perubahan sikap ini menunjukkan kekhawatiran mendalam terhadap dampak kemanusiaan yang terus memburuk.

Sebelumnya, dalam khotbah hari Minggu, ia menegaskan bahwa Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki “tangan yang penuh darah”, sebuah kritik moral yang ditujukan kepada para pengambil keputusan dalam konflik.

Baca Juga: Arus Balik Santri Membludak di Pelabuhan Jangkar, Polisi Perketat Penjagaan!

Perang yang telah berlangsung sekitar satu bulan itu bermula dari serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran pada 28 Februari. Sejak saat itu, konflik berkembang menjadi krisis regional yang melibatkan berbagai aktor dan memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dampak perang tidak hanya dirasakan di wilayah konflik. Ribuan korban jiwa telah berjatuhan, sementara gangguan pada pasokan energi global memicu volatilitas pasar dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia. Dalam konteks ini, konflik tersebut telah bergeser dari skala regional menjadi ancaman sistemik terhadap stabilitas global.

Paus Leo secara khusus menyoroti tingginya korban sipil, termasuk anak-anak. “Sudah terlalu banyak kematian, termasuk anak-anak yang tidak berdosa,” ujarnya. Ia juga mengajak komunitas internasional untuk terus menyuarakan perdamaian. “Mari kita terus menggaungkan seruan untuk perdamaian,” katanya, menekankan pentingnya tekanan moral global.

Lebih jauh, ia mengingatkan adanya kecenderungan sejumlah pihak yang justru mendorong eskalasi. “Terlalu banyak orang yang mendorong pertempuran, kekerasan, dan perang,” ujarnya, menggambarkan dinamika global yang dinilai menjauh dari jalur diplomasi.

Seruan ini disampaikan menjelang perayaan Paskah pada 5 April, yang sarat makna harapan dan perdamaian. Paus Leo berharap kekerasan dapat dihentikan sebelum momentum tersebut, sehingga pesan spiritual tidak bertentangan dengan realitas dunia yang sedang berlangsung.

Editor : Bayu Shaputra
#Paus Leo #Konflik Timur Tengah #Donald Trump